Ora et Labora: Duduk di Kaki Tuhan, Diutus ke Tengah Umat

Opini & Refleksi

Ora et Labora: Duduk di Kaki Tuhan, Diutus ke Tengah Umat

139

Refleksi Misa Perutusan Kuliah Kerja Nyata, 6 Oktober 2026

Misa Perutusan KKN STK St. Yakobus Merauke menegaskan bahwa KKN bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan perjalanan iman dan pelayanan. Melalui kisah Marta dan Maria serta pengalaman pertobatan Paulus, mahasiswa diajak menghayati semangat Ora et Labora: berdoa dan bekerja. Doa memberi arah bagi pelayanan, sementara karya menghadirkan iman dalam kehidupan nyata. KKN menjadi ruang perjumpaan, pembelajaran, dan transformasi, agar mahasiswa mampu hadir di tengah umat dengan hati yang peka, bertanggung jawab, dan siap melayani.

Hari ini, keluarga besar STK St. Yakobus Merauke berkumpul dalam Ekaristi untuk mengutus para mahasiswa yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Perutusan ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan sebuah pengutusan gerejawi: sebuah langkah iman yang menempatkan mahasiswa sebagai murid-murid Kristus yang diutus ke tengah umat dan masyarakat.

Berdasarkan homili RD Donatus Wea dalam Misa Perutusan KKN, refleksi ini hendak menegaskan kembali pesan penting tentang Ora et Labora—berdoalah dan bekerjalah. KKN bukan hanya ruang untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh di kampus, tetapi juga kesempatan untuk belajar hadir, mendengarkan, melayani, dan bertumbuh bersama umat.

Sabda Tuhan hari ini, melalui kisah Marta dan Maria serta kesaksian Paulus, menawarkan sebuah fondasi spiritual yang kokoh bagi perjalanan KKN: Ora et Labora, berdoa dan bekerja.

Marta dan Maria: Dua Wajah Pelayanan yang Satu Roh

Kisah Marta dan Maria (Luk 10:38-42) sering dipahami sebagai pertentangan antara pelayanan aktif dan kontemplasi. Namun, Yesus tidak menolak pelayanan Marta. Yang ditegur-Nya adalah kehilangan fokus: Marta sibuk dengan banyak hal, tetapi melupakan “yang satu perlu”, yakni duduk mendengarkan Tuhan.

“Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Luk 10:41-42).

Inilah inti pesan yang penting bagi para mahasiswa KKN. Pelayanan tanpa mendengarkan Tuhan mudah kehilangan roh dan arah. Kesibukan dapat membuat seseorang merasa telah banyak berbuat, tetapi belum tentu sungguh memahami apa yang dibutuhkan oleh orang yang dilayani. Karena itu, Tuhan harus tetap menjadi fokus utama, bukan sekadar proyek, laporan, target kegiatan, atau keberhasilan program.

Marta dan Maria sesungguhnya bukan dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya menghadirkan dua dimensi dari kehidupan seorang murid: ‘mendengarkan Tuhan dan melayani sesama’. Maria duduk di kaki Yesus untuk mendengarkan. Marta bergerak untuk melayani. Keduanya menemukan maknanya ketika pelayanan lahir dari hati yang terlebih dahulu mendengarkan Tuhan.

Bagi mahasiswa KKN, pesan ini sederhana tetapi penting: sebelum bertanya, “Apa yang akan saya lakukan?”, mungkin perlu terlebih dahulu bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki dan apa yang sungguh dibutuhkan umat?”

Paulus: Pelayanan yang Digerakkan oleh Perjumpaan

Dalam bacaan pertama (Gal 1:13-24), Paulus menceritakan bagaimana ia dahulu menganiaya Gereja, tetapi kemudian dipanggil oleh kasih karunia Allah. Perjumpaannya dengan Kristus mengubah arah hidupnya dan menggerakkannya untuk memberitakan Injil.

“Tetapi setelah Ia, yang telah memilih aku sejak aku masih dalam kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi…” (Gal 1:15-16).

Paulus tidak langsung bekerja. Ia menarik diri ke tanah Arab, kemudian kembali ke Damsyik. Ada masa ketika ia berhenti, mengalami pendalaman, pembentukan, dan mendengarkan Tuhan. Dari proses itulah kemudian lahir pelayanan yang luar biasa.

Kisah Paulus mengingatkan bahwa pelayanan yang berbuah tidak lahir semata-mata dari kemampuan bekerja. Ia lahir dari perjumpaan yang mengubah kehidupan.

Pelajaran ini penting bagi mahasiswa KKN. KKN bukan hanya tentang “apa yang saya lakukan”, tetapi juga tentang “siapa yang mengutus saya” dan “dari mana saya memperoleh kekuatan untuk melayani”. Karena itu, pengalaman KKN hendaknya tidak berhenti pada kegiatan dan laporan. Ia perlu menjadi proses pembentukan diri.

Formasi sejati selalu bermuara pada transformasi. Mahasiswa diharapkan tidak hanya pulang dengan laporan yang selesai, tetapi juga dengan hati yang lebih peka, wawasan yang lebih luas, dan kesadaran yang lebih mendalam tentang kehidupan umat yang dijumpainya.

Ora et Labora: Keseimbangan yang Menghidupkan

Ora et Labora—berdoa dan bekerja—merupakan moto hidup tradisi Benediktin. Namun, semangat ini juga relevan bagi kehidupan setiap murid Kristus.

Ora mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan Tuhan, dan menemukan kembali arah perjalanan. Labora mengajak kita turun dari keheningan menuju tindakan, menghadirkan kasih melalui kerja nyata.

Keduanya tidak boleh dipisahkan. Berdoa tanpa bekerja dapat membuat iman berhenti pada kata-kata. Sebaliknya, bekerja tanpa doa dapat membuat pelayanan berubah menjadi sekadar kesibukan. Karena itu, ora memberi roh pada labora, sedangkan labora memberi bentuk nyata pada ora. Sebagaimana ditegaskan dalam Surat Yakobus, “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26).

Dalam terang kisah Marta dan Maria, kita dapat melihat bahwa duduk di kaki Yesus dan bekerja bagi sesama bukanlah dua hal yang bertentangan. Yang satu memberi kedalaman, yang lain memberi wujud.

Para mahasiswa KKN diutus untuk menghidupi keduanya: melayani umat dan masyarakat dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap berakar pada doa dan pendengaran akan Sabda Tuhan.

Perutusan KKN sebagai Perutusan Gereja

Misa perutusan menunjukkan bahwa KKN di STK St. Yakobus Merauke tidak semata-mata dipandang sebagai kewajiban akademik. Di dalamnya terdapat dimensi iman dan perutusan.

Mahasiswa tidak diutus hanya dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Mereka diutus melalui Gereja dan diteguhkan dalam Ekaristi.

Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup Kristiani. Dari meja Ekaristi, mahasiswa kemudian diutus menuju “meja kehidupan”: ke tengah umat, ke kampung-kampung, ke keluarga-keluarga, dan ke tengah masyarakat dengan segala persoalan serta harapannya.

Karena itu, Tuhan perlu dilibatkan dalam setiap langkah KKN: dalam rapat, dalam kerja bersama, dalam pendampingan, dalam percakapan sederhana, bahkan dalam saat-saat ketika rencana tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Setiap kampung yang dikunjungi, setiap keluarga yang ditemui, dan setiap umat yang dilayani dapat menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan. Dengan cara demikian, tempat KKN dapat menjadi semacam “Betania”: tempat Yesus hadir, tempat manusia belajar mendengarkan, melayani, dan mencintai dengan cara yang semakin benar.

Pesan untuk Perjalanan KKN

Kepada para mahasiswa yang akan diutus, pesan pertama adalah: ‘dengarkanlah Tuhan setiap hari’. Sisihkan waktu untuk doa pribadi, membaca Kitab Suci, dan merenungkan Sabda. Di tengah kesibukan KKN, jangan kehilangan waktu untuk duduk “di kaki Tuhan”. Itulah “bagian yang terbaik” yang tidak akan diambil dari kita.

Kedua, ‘bekerjalah dengan tanggung jawab’. KKN merupakan kesempatan nyata untuk mengabdikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat. Lakukan yang terbaik, bukan semata-mata demi penilaian atau pujian manusia, melainkan karena pelayanan yang baik merupakan bagian dari tanggung jawab seorang mahasiswa dan seorang murid Kristus.

Ketiga, ‘jagalah keseimbangan ora et labora. Jangan tenggelam dalam kesibukan sampai melupakan Tuhan. Namun, jangan pula berhenti pada doa tanpa keberanian untuk bekerja. Doa dan karya perlu berjalan bersama.

Keempat, ‘biarkan proses KKN mentransformasi diri’. KKN bukan sekadar kewajiban akademik. Ia adalah sekolah kehidupan: ruang untuk belajar memahami manusia, mengenal kenyataan sosial, menghargai pengalaman umat, dan menemukan bahwa masyarakat bukan sekadar objek kegiatan, melainkan sesama yang memiliki cerita, harapan, dan martabat.

Keenam, ‘andalkanlah Tuhan dalam setiap langkah’. Seperti Paulus, biarkan perjumpaan dengan Kristus menggerakkan seluruh pelayanan. Sebab, mahasiswa yang pulang dari KKN seharusnya bukan hanya mahasiswa yang telah menyelesaikan sebuah program, tetapi pribadi yang telah mengalami sesuatu yang mengubah cara memandang Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.

Harapan Penutup

Semoga perutusan ini tidak berhenti pada hari ketika mahasiswa meninggalkan kampus menuju tempat KKN. Semoga semangat Ora et Labora terus hidup dalam setiap langkah mereka: memiliki hati yang selalu terbuka untuk mendengarkan Tuhan dan tangan yang siap bekerja bagi sesama.

Semoga perjalanan KKN menjadi ruang perjumpaan yang memperkaya—bagi mahasiswa maupun bagi umat yang mereka layani. Semoga mahasiswa hadir bukan sebagai orang yang datang membawa jawaban untuk segala sesuatu, tetapi sebagai pribadi yang bersedia mendengarkan, belajar, berbagi, dan bekerja bersama masyarakat.

Dan ketika kelak mereka kembali ke kampus, semoga ada sesuatu yang telah berubah dalam diri mereka: pengetahuan yang semakin matang, kepedulian yang semakin dalam, iman yang semakin hidup, serta hati yang semakin siap untuk melayani.

Dari Ekaristi mereka diutus. Di tengah umat mereka belajar. Dalam pelayanan mereka bertumbuh. Dan melalui Ora et Labora, mereka menemukan bahwa menjadi murid Kristus berarti ‘duduk di kaki Tuhan untuk mendengarkan, lalu bangkit untuk bekerja dan melayani’.

Semoga seluruh perjalanan KKN para mahasiswa STK St. Yakobus Merauke menjadi pengalaman iman, pembelajaran, dan pelayanan yang membawa berkat bagi mereka sendiri, bagi kampus, dan terutama bagi umat serta masyarakat yang mereka jumpai. (*)

Merauke, 6 Oktober 2026

Agustinus Gereda

139

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.