Anak Papua Datang ke Kelas Membawa Cerita

Opini & Refleksi

Anak Papua Datang ke Kelas Membawa Cerita

Serial MENJADI GURU Bagian II: Memahami Peserta Didi

Setiap peserta didik datang ke ruang kelas dengan membawa pengalaman, keluarga, budaya, lingkungan, dan cerita hidup yang ikut membentuk cara mereka belajar. Dalam konteks Papua Selatan, guru perlu memahami keragaman tersebut tanpa terjebak pada stereotip tentang “anak Papua”. Memahami peserta didik berarti melihat mereka sebagai pribadi yang unik, bukan sekadar angka dan nilai akademik. Karena itu, calon guru perlu mengembangkan kepekaan, keterbukaan, dan kemampuan mendengarkan agar pembelajaran berlangsung lebih manusiawi dan kontekstual.

Suatu hari dalam perkuliahan di STK St. Yakobus Merauke, seorang mahasiswa calon guru tampak kurang aktif. Ketika dosen mengajukan pertanyaan, ia lebih banyak diam. Beberapa kali ia hanya tersenyum ketika teman-temannya berdiskusi.

Sekilas, mudah saja menyimpulkan bahwa ia kurang percaya diri atau belum menguasai materi. Namun, ketika diberi kesempatan berbicara dalam suasana yang lebih santai, ceritanya berbeda. Ia mengaku lebih terbiasa mendengarkan terlebih dahulu sebelum menyampaikan pendapat. Di lingkungan keluarganya, berbicara tidak selalu berarti harus menjadi orang yang paling cepat memberikan jawaban. Ia perlu memperhatikan siapa yang berbicara, apa yang sedang dibicarakan, dan bagaimana menjaga hubungan dengan orang lain.

Cerita itu sederhana. Tetapi bagi seorang calon guru, cerita tersebut menyimpan pelajaran penting. Apa yang tampak sebagai “kurang aktif” di kelas belum tentu berarti kurang mampu. Bisa jadi guru belum menemukan cara untuk memahami bagaimana peserta didiknya belajar dan berkomunikasi. Anak tidak datang ke kelas sebagai kertas kosong. Ia datang membawa cerita.

Mengapa Hal Itu Terjadi?

Sekolah sering mempunyai ukuran tertentu tentang peserta didik yang “aktif”. Anak yang cepat menjawab dianggap memahami. Anak yang berani berbicara dianggap percaya diri. Anak yang sering bertanya dianggap memiliki rasa ingin tahu.

Ukuran seperti itu memang tidak sepenuhnya salah. Namun, persoalannya muncul ketika satu ukuran digunakan untuk membaca semua anak.

Peserta didik Papua Selatan hidup dalam lingkungan sosial dan budaya yang beragam. Ada yang tumbuh dalam keluarga dengan tradisi lisan yang kuat. Ada yang terbiasa belajar melalui pengamatan dan pengalaman. Ada yang hidup dalam keluarga yang sangat menekankan kebersamaan. Ada pula yang tumbuh dalam lingkungan perkotaan dengan pengalaman sosial yang berbeda. Karena itu, seorang guru perlu berhati-hati ketika membaca perilaku peserta didik.

Diam tidak selalu berarti tidak tahu. Banyak bicara tidak selalu berarti lebih memahami. Lambat menjawab tidak selalu berarti lambat berpikir.

Persoalannya bukan apakah guru boleh menilai perilaku peserta didik. Tentu saja boleh. Yang penting adalah ‘bagaimana guru sampai pada penilaian itu’.

Anak Papua Bukan Sekadar Peserta Didik

Peserta didik mempunyai identitas akademik, tetapi manusia tidak pernah hanya memiliki identitas akademik.

Seorang anak mungkin datang ke sekolah sebagai siswa, tetapi di rumah ia adalah anak, kakak, adik, cucu, atau anggota keluarga yang memiliki tanggung jawab tertentu. Ia hidup dalam komunitas. Ia mengenal bahasa, nilai, kebiasaan, cerita, simbol, dan cara berelasi yang membentuk dirinya.

Karena itu, ketika seorang anak Papua memasuki ruang kelas, yang hadir bukan hanya tubuhnya dan buku pelajarannya. Bersamanya hadir keluarga, lingkungan, pengalaman, dan kebudayaan yang ikut membentuk cara ia melihat dunia.

Namun, memahami konteks budaya tidak berarti memasukkan semua anak Papua ke dalam satu kotak.

Papua Selatan sendiri memiliki keragaman masyarakat dan kebudayaan. Anak-anak dapat memiliki pengalaman yang sangat berbeda, bahkan ketika mereka berasal dari wilayah yang sama. Karena itu, guru tidak cukup hanya mengetahui “budaya Papua” sebagai pengetahuan umum. Guru perlu mengenal ‘anak yang konkret di hadapannya’.

Di sinilah pendidikan menjadi perjumpaan antarmanusia. Guru tidak hanya bertanya, “Berapa nilai yang diperolehnya?” tetapi juga, “Siapa anak ini dan pengalaman apa yang membentuk cara belajarnya?”

Refleksi Pedagogis: Belajar dari Peserta Didik

Dalam pedagogi, memahami peserta didik merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Guru perlu mengenali karakteristik, kebutuhan, pengalaman, dan lingkungan belajar peserta didiknya.

Tetapi pemahaman itu bukan pekerjaan sekali jadi. Guru perlu terus mengamati, bertanya, mendengarkan, dan membuka ruang dialog. Ia tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan seseorang hanya berdasarkan satu perilaku.

Di sinilah calon guru perlu memiliki apa yang dapat disebut ‘kepekaan pedagogis’: kemampuan melihat perilaku peserta didik bukan hanya sebagai masalah, tetapi sebagai pesan yang perlu dipahami.

Ketika seorang anak tidak mengerjakan tugas, guru dapat langsung melihatnya sebagai kemalasan. Tetapi mungkin ada persoalan lain di belakangnya.

Ketika anak tidak berbicara dalam diskusi, guru dapat menganggapnya tidak menguasai materi. Padahal mungkin ia membutuhkan waktu untuk menyusun pikirannya.

Ketika seorang anak lebih nyaman belajar melalui cerita dan pengalaman konkret, guru tidak perlu memaksanya selalu mengikuti satu pola belajar.

Memahami peserta didik bukan berarti menurunkan standar pendidikan. Justru sebaliknya, pemahaman membantu guru menemukan jalan agar standar itu dapat dicapai secara manusiawi.

Apa yang Dapat Dilakukan Guru?

Guru dapat memulai dari hal-hal sederhana. Pertama, kenali peserta didik sebagai pribadi. Jangan hanya mengingat namanya, tetapi kenali kebiasaan belajar, minat, kekuatan, dan kesulitannya.

Kedua, beri ruang bagi pengalaman lokal. Cerita keluarga, lingkungan, alam, bahasa, kehidupan masyarakat, dan pengalaman sehari-hari dapat menjadi pintu masuk pembelajaran.

Ketiga, hindari label yang tergesa-gesa. Sebutan seperti “malas”, “bodoh”, “pendiam”, atau “tidak mampu” dapat mengunci cara guru melihat seorang anak.

Keempat, gunakan berbagai cara untuk mengetahui pemahaman peserta didik. Tidak semua anak harus menunjukkan pemahamannya dengan cara yang sama.

Kelima, belajar dari komunitas. Guru tidak harus menjadi orang yang mengetahui segala sesuatu tentang budaya setempat. Ia dapat bertanya kepada orang tua, tokoh masyarakat, atau peserta didik sendiri.

Dengan cara demikian, kelas tidak menjadi ruang untuk menghapus perbedaan, tetapi ruang untuk mengolah perbedaan menjadi kekuatan belajar.

Refleksi bagi Calon Guru

Menjadi guru di Papua Selatan berarti bersedia masuk ke dalam dunia peserta didik tanpa kehilangan tanggung jawab sebagai pendidik.

Calon guru perlu mengubah satu kebiasaan: dari ‘cepat menilai menjadi tekun memahami’. Sebab di balik setiap anak ada cerita yang mungkin belum diketahui guru.

Ada anak yang tumbuh dalam keluarga besar. Ada yang sejak kecil belajar bertanggung jawab membantu orang tua. Ada yang mengenal dunia melalui cerita dan pengalaman komunitas. Ada yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada pula yang sedang mencari kepercayaan dirinya.

Semua pengalaman itu ikut masuk ke ruang kelas. Maka, sebelum bertanya apakah anak sudah siap menerima pelajaran, guru mungkin perlu bertanya kepada dirinya sendiri: ‘sudahkah saya berusaha memahami anak yang akan saya ajar?’

Anak Papua bukan sekadar peserta didik. Ia adalah manusia yang sedang bertumbuh, membawa cerita, identitas, pengalaman, dan harapan.

Dan tugas guru bukan menghapus cerita itu, melainkan membantu anak membaca, mengembangkan, dan mengarahkan cerita hidupnya menuju masa depan. Di situlah guru mulai benar-benar memahami peserta didiknya. (*)

Merauke, 09 Oktober 2026

Agustinus Gereda

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.