Mengajar Itu Bertemu: Ketika Interaksi Menjadi Relasi

Opini & Refleksi

Mengajar Itu Bertemu: Ketika Interaksi Menjadi Relasi

Serial MENJADI GURU Bagian IV Pedagogi Relasional: Mendidik dengan Hati dan Akal Budi

Pendidikan bukan sekadar penyampaian materi dan penerapan metode, melainkan perjumpaan manusia yang dibangun melalui perhatian, kepercayaan, dan penghargaan terhadap martabat peserta didik. Interaksi di kelas belum tentu menjadi relasi yang mendidik apabila peserta didik merasa takut bertanya atau menyampaikan kesulitan. Karena itu, guru perlu membangun suasana belajar yang aman, mendengarkan dengan empati, dan menanggapi kesalahan secara konstruktif. Bagi calon guru, pedagogi relasional menuntut kesatuan penguasaan ilmu, kepedulian, dan tanggung jawab.

Dalam sebuah perkuliahan di STK St. Yakobus Merauke, dosen menjelaskan materi dan membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk bertanya. Beberapa mahasiswa mengangguk, sebagian mencatat, tetapi tidak seorang pun mengangkat tangan. Dosen mengulang pertanyaannya. Kelas tetap hening.

Setelah perkuliahan selesai, seorang mahasiswa menghampiri dosen. Ia mengatakan bahwa sebenarnya ada bagian materi yang belum dipahami. Namun, ia merasa ragu untuk bertanya di depan teman-temannya. Ia takut pertanyaannya dianggap sederhana atau menunjukkan bahwa dirinya kurang mampu.

Dosen itu terdiam sejenak. Selama ini, ia mengira mahasiswa yang tidak bertanya berarti sudah memahami penjelasan. Ia juga merasa telah menjalankan tugasnya dengan baik: menjelaskan materi, memberi kesempatan bertanya, dan menyelesaikan perkuliahan sesuai jadwal.

Percakapan singkat di akhir kelas membuka kenyataan lain. Kesempatan bertanya memang sudah diberikan, tetapi belum tentu semua mahasiswa merasa aman untuk menggunakannya. Interaksi telah berlangsung; relasi yang memungkinkan mahasiswa menyampaikan kesulitan ternyata belum sepenuhnya terbentuk.

Pertanyaan: Apakah Berada di Ruang yang Sama Berarti Saling Terhubung?

Di kelas, guru dan peserta didik berinteraksi setiap hari. Guru menjelaskan, murid menjawab. Guru memberi tugas, murid mengerjakan. Guru menilai, murid menerima hasilnya. Semua itu merupakan bagian penting dari kegiatan pendidikan.

Namun, interaksi belum tentu menjadi relasi. Interaksi dapat berlangsung singkat, mekanis, dan hanya berpusat pada penyelesaian tugas. Relasi tumbuh ketika orang saling memperhatikan, mengenali kehadiran satu sama lain, dan membangun kepercayaan.

Mengapa perbedaan ini penting? Karena peserta didik bukan sekadar penerima materi. Mereka adalah manusia yang datang ke kelas dengan pengalaman, harapan, kecemasan, dan kebutuhan yang berbeda. Cara guru menyapa, menanggapi pertanyaan, atau memperlakukan kesalahan dapat memengaruhi keberanian mereka untuk terlibat dalam pembelajaran.

Kelas mungkin berjalan sesuai rencana, tetapi jika peserta didik merasa tidak didengar atau takut dipermalukan, sebagian dari proses belajar dapat tertutup. Pertanyaannya bukan hanya apakah guru telah berbicara kepada murid, melainkan apakah murid merasa dapat berbicara kepada guru.

Refleksi Pedagogis: Relasi sebagai Ruang Pertumbuhan

Pedagogi relasional memandang hubungan antara guru dan peserta didik sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Pengetahuan tidak dibangun dalam ruang yang kosong. Proses belajar berlangsung melalui perjumpaan: dengan guru, teman, gagasan, dan pengalaman hidup.

Relasi yang baik tidak berarti guru harus menjadi teman sebaya atau selalu menyenangkan peserta didik. Guru tetap memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan, menetapkan batas, menilai, dan menegakkan aturan. Namun, kewenangan itu dijalankan dengan menghormati martabat peserta didik, bukan dengan mempermalukan atau menakut-nakuti mereka.

Dalam relasi pedagogis, perhatian dan ketegasan dapat berjalan bersama. Guru dapat menolak perilaku yang mengganggu tanpa merendahkan orang yang melakukannya. Ia dapat mengoreksi jawaban yang keliru tanpa membuat peserta didik merasa dirinya bodoh. Ia juga dapat mendengarkan pengalaman murid tanpa harus menyetujui setiap pendapat.

Relasi bukan tambahan yang memperindah metode mengajar. Relasi membantu menciptakan kondisi agar metode dapat bekerja. Diskusi akan lebih bermakna ketika peserta didik berani menyampaikan pendapat. Umpan balik lebih mudah diterima ketika diberikan dalam suasana saling menghargai. Kesalahan menjadi kesempatan belajar ketika peserta didik tidak takut kehilangan harga diri.

Pendidikan terjadi bukan hanya ketika guru menyampaikan sesuatu kepada murid tetapi juga ketika guru hadir sebagai manusia yang bersedia mendengarkan manusia lain.

Praktik: Membangun Relasi dalam Kegiatan Sehari-hari

Relasi pedagogis tidak harus dibangun melalui kegiatan besar. Ia tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pertama, guru dapat menyapa peserta didik dan menyebut nama mereka dengan tepat. Sapaan yang tulus memberi pesan bahwa kehadiran setiap orang diperhatikan. Di kelas yang beragam, upaya mengenali nama dan latar pengalaman peserta didik juga menjadi bentuk penghargaan.

Kedua, dengarkan sebelum menyimpulkan. Ketika seorang mahasiswa tidak mengumpulkan tugas atau seorang murid tampak tidak terlibat, guru perlu mencari tahu penyebabnya. Ada kemungkinan masalahnya berkaitan dengan pemahaman, kondisi keluarga, akses belajar, atau hal lain yang belum diketahui. Mendengarkan bukan berarti membenarkan semua alasan, melainkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh sebelum mengambil keputusan.

Ketiga, tanggapi pertanyaan dan kesalahan dengan cara yang menjaga martabat. Guru dapat mengajak kelas memeriksa jawaban yang keliru sebagai bahan belajar bersama. Dengan demikian, peserta didik tidak merasa bahwa bertanya atau mencoba merupakan tindakan yang berisiko.

Keempat, hadir secara konsisten. Perhatian yang sesekali diberikan belum cukup untuk membangun kepercayaan. Peserta didik perlu mengalami bahwa guru menepati janji, menerapkan aturan secara adil, dan bersedia membantu ketika mereka menghadapi kesulitan.

Dalam konteks Papua Selatan, guru juga perlu membuka ruang bagi keragaman bahasa, budaya, dan pengalaman hidup peserta didik tanpa menganggap semua anak memiliki latar yang sama. Relasi dibangun melalui rasa ingin tahu dan penghormatan, bukan melalui prasangka atau asumsi.

Refleksi: Calon Guru Belajar Hadir bagi Manusia

Bagi mahasiswa calon guru di STK St. Yakobus Merauke, pedagogi relasional mengajak mereka memeriksa kembali makna mengajar. Apakah keberhasilan hanya diukur dari materi yang selesai disampaikan dan tugas yang terkumpul? Ataukah juga dari keberanian peserta didik untuk bertanya, mengakui kesulitan, dan mencoba kembali?

Calon guru perlu belajar bahwa kemampuan mengajar tidak hanya tampak dalam penguasaan materi dan metode. Ia juga tampak dalam cara memperlakukan orang lain. Guru yang memahami manusia tidak buru-buru memberi label, tidak menjadikan kesalahan sebagai bahan ejekan, dan tidak menggunakan kewenangan untuk membungkam suara peserta didik.

Perubahan ini dimulai dari kesediaan untuk melihat murid bukan sebagai angka, masalah, atau kumpulan tugas, melainkan sebagai pribadi yang sedang bertumbuh. Tentu, perhatian kepada peserta didik tidak menghapus tuntutan belajar. Justru relasi yang sehat membantu guru menyampaikan tuntutan dengan lebih jelas, adil, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, mengajar adalah pekerjaan akal budi sekaligus pekerjaan hati. Akal budi membantu guru memahami materi, memilih metode, dan menilai secara cermat. Hati membantunya hadir dengan perhatian, kesabaran, dan penghormatan. Ketika keduanya berjalan bersama, interaksi sehari-hari dapat bertumbuh menjadi relasi yang mendidik.

Di ruang kelas, mungkin tidak semua pertanyaan langsung terucap. Namun, ketika peserta didik merasa aman untuk bertanya, didengar ketika berbicara, dan dihargai ketika keliru, pendidikan telah bergerak melampaui penyampaian pelajaran. Ia menjadi perjumpaan yang membuka ruang bagi manusia untuk bertumbuh. (*)

Merauke, 4 November 2026

Agustinus Gereda

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.