Imam Sejati: Dekat dengan Tuhan, Uskup, Rekan Imam, dan Umat
Refleksi Syukur 25 Tahun Imamat RD Donatus Wea
Refleksi ini mengangkat makna imamat sejati melalui perayaan syukur 25 tahun imamat RD Donatus Wea. Berlandaskan homili Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, refleksi ini menyoroti empat pilar kehidupan imam: kedekatan dengan Allah, uskup, rekan imam, dan umat. Berpedoman pada Yesaya 49:16 dan Lukas 13:31–35, tulisan ini menegaskan bahwa kesetiaan imamat bertumbuh melalui doa, persaudaraan, pelayanan, dan keteguhan menghadapi tantangan. Kesaksian ini menjadi inspirasi bagi Gereja dan dunia pendidikan.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026, keluarga besar Ine Ebu, perwakilan Flobamora, umat, dan para imam bersyukur atas 25 tahun imamat RD Donatus Wea. Perayaan Ekaristi yang berlangsung di Gedung Arkelaus, Paroki Bambu Pemali, Merauke, dipimpin oleh Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC. Dalam homilinya, Uskup Mandagi mengajukan pertanyaan mendasar: siapakah seorang imam yang sejati?
Pertanyaan ini mengajak kita melihat imamat lebih jauh daripada jabatan, tugas liturgis, atau kedudukan dalam Gereja. Menjadi imam berarti menjalani panggilan yang menyentuh seluruh kehidupan. Seorang imam tidak hanya hadir ketika memimpin Ekaristi atau melayani sakramen, tetapi juga ketika berdoa dalam keheningan, menghadapi pergulatan batin, membangun persaudaraan, dan berjalan bersama umat.
Uskup Mandagi menyoroti empat pilar kehidupan imam yang dikemukakan Paus Fransiskus, yakni kedekatan dengan Allah, uskup, rekan imam, dan umat. Keempat pilar ini menjadi kerangka untuk memahami perjalanan imamat RD Don selama seperempat abad.
Empat Kedekatan dalam Satu Panggilan
Pertama, dekat dengan Allah
Kedekatan dengan Allah merupakan dasar kehidupan seorang imam. Doa, Ekaristi, dan Kitab Suci bukan sekadar kewajiban yang harus dipenuhi, melainkan sumber yang menjaga kehidupan rohani dan menyegarkan panggilan. Dalam homilinya, Mgr. Mandagi menegaskan bahwa RD Don tidak pernah melupakan Tuhan melalui doa, Ekaristi, dan Kitab Suci.
Kedekatan ini penting karena seorang imam dapat begitu sibuk mengurus pelayanan sampai kehilangan ruang untuk mendengarkan Tuhan. Ia dapat berbicara tentang Allah kepada banyak orang, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk tinggal bersama Allah. Sebelum menjadi pelayan bagi orang lain, seorang imam perlu menyadari dirinya sebagai manusia yang terlebih dahulu dipanggil dan dikasihi Tuhan.
Bacaan pertama, yang dikutip dari Kitab Nabi Yesaya, memberikan dasar refleksi yang mendalam: “Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (Yes 49:16). Moto imamat RD Don ini mengingatkan bahwa panggilan tidak hanya bertumpu pada kekuatan manusia. Ada tangan Tuhan yang menopang, bahkan ketika perjalanan tidak selalu mudah.
Kedua, dekat dengan uskup
Kedekatan dengan uskup bukan sekadar hubungan antara pemimpin dan bawahan. Imam mengambil bagian dalam pelayanan imamat uskup dan menjalankan perutusannya dalam persekutuan Gereja. Karena itu, ketaatan kepada uskup memiliki makna eklesial: kesediaan berjalan bersama Gereja, menerima tanggung jawab, dan melayani dalam kesatuan.
Dalam konteks ini, kedekatan RD Don dengan uskup menjadi salah satu aspek yang disoroti Uskup Mandagi. Kesetiaan seorang imam tidak diukur hanya dari keberhasilan menjalankan tugasnya sendiri, tetapi juga dari kesediaannya membangun persekutuan dan bekerja bagi misi Gereja bersama gembalanya.
Ketiga, dekat dengan rekan imam
Imamat bukan perjalanan seorang diri. Di balik tugas pelayanan yang tampak, seorang imam juga membutuhkan saudara yang dapat menjadi teman berbagi, tempat belajar, dan sumber penguatan. Persaudaraan imam bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat, melainkan kesediaan memelihara rasa saling menghormati dan mendukung panggilan satu sama lain.
Keterlibatan RD Don dalam kegiatan rekoleksi kevikepan serta kesediaannya memberikan diri bagi kehidupan bersama para imam memperlihatkan pentingnya dimensi persaudaraan ini. Dalam kebersamaan, seorang imam belajar bahwa pelayanan tidak harus dipikul sendirian. Rekan imam bukan pesaing, melainkan saudara seperjalanan dalam menjalankan perutusan yang sama.
Keempat, dekat dengan umat
Pilar keempat membawa kita pada ungkapan Paus Fransiskus tentang gembala yang “berbau domba”. Gambaran ini menyatakan bahwa seorang imam tidak boleh menjaga jarak dari kehidupan nyata umat yang dilayaninya. Ia dipanggil untuk hadir, mendengarkan, memahami pergulatan, dan berbagi harapan dengan mereka.
Uskup Mandagi menyaksikan sendiri kedekatan RD Don dengan umat, mahasiswa, para suster, dan rekan-rekannya. Kedekatan semacam ini penting karena pelayanan pastoral tidak cukup dijalankan dari balik meja atau hanya melalui kegiatan resmi. Seorang gembala perlu mengenal kehidupan orang-orang yang dipercayakan kepadanya.
Dalam konteks pelayanan RD Don di STK St. Yakobus Merauke, dimensi ini juga mengingatkan bahwa pendampingan mahasiswa merupakan bagian dari pelayanan yang menyentuh manusia secara utuh. Kehadiran seorang imam dapat menjadi ruang bagi kaum muda untuk bertumbuh dalam iman, pengetahuan, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Kesetiaan yang Diuji oleh Tantangan
Perjalanan 25 tahun imamat tentu tidak selalu berlangsung tanpa pergulatan. Uskup Mandagi menyinggung berbagai tantangan, baik dari luar maupun dari dalam diri, termasuk dusta, keinginan egoistis, dinamika pelayanan di STK St. Yakobus Merauke, serta tantangan dalam relasi dengan rekan-rekan imam.
Bacaan Injil Lukas 13:31–35 menghadirkan Yesus yang tetap melanjutkan perutusan-Nya meskipun menghadapi ancaman Herodes dan penolakan Yerusalem. Yesus tidak membiarkan ancaman menghentikan perjalanan-Nya menuju tujuan perutusan. Kesetiaan-Nya bukan berarti tidak mengalami penderitaan, melainkan tetap berpegang pada kehendak Bapa di tengah kesulitan.
Dalam terang Injil ini, kesetiaan RD Don pada moto imamatnya dapat dipahami sebagai usaha terus-menerus untuk bersandar pada Tuhan. Kesetiaan tidak berarti seseorang bebas dari kelemahan atau selalu berhasil mengatasi semua masalah. Kesetiaan berarti tidak menyerahkan seluruh arah hidup kepada ego, kepentingan pribadi, atau tekanan keadaan.
Tangan Tuhan yang disebut dalam Yesaya 49:16 menjadi pengingat bahwa panggilan tetap membutuhkan rahmat sekaligus tanggapan manusia. Doa, pertobatan, keterbukaan terhadap koreksi, dan kesediaan memperbaiki relasi merupakan bagian dari usaha menjaga panggilan itu tetap hidup.
Dua Puluh Lima Tahun dan Perutusan yang Berlanjut
Pesta Perak Imamat RD Don bukan hanya kesempatan untuk mengenang perjalanan yang telah ditempuh, melainkan juga momentum untuk memperbarui komitmen. Keuskupan Agung Merauke patut bersyukur atas kehadiran imam, yang berusaha menghidupi empat kedekatan tersebut.
Namun, kesaksian ini juga menjadi bahan refleksi bagi seluruh umat. Kedekatan dengan Tuhan, kesediaan membangun persekutuan, persaudaraan, dan perhatian terhadap sesama bukan hanya nilai bagi seorang imam. Keempatnya juga dapat menghidupi keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang imam sejati tidak dijawab hanya melalui kata-kata, tetapi melalui kehidupan yang dijalani setiap hari. Seorang imam sejati terus belajar tinggal bersama Tuhan, berjalan bersama uskup, bersaudara dengan rekan imam, dan hadir di tengah umat.
Semoga moto imamat RD Don, “Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku,” terus menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan selanjutnya. Dua puluh lima tahun telah menjadi bagian dari lukisan itu. Masih ada garis-garis kehidupan yang akan ditambahkan melalui doa, pelayanan, pergulatan, dan kesetiaan. (*)
Merauke, 30 Oktober 2026
Agustinus Gereda



