Nama yang Dilukiskan di Telapak Tangan Tuhan
Refleksi Syukur Dua Puluh Lima Tahun Imamat RD Donatus Wea
Refleksi ini mengangkat perjalanan 25 tahun imamat RD Donatus Wea sebagai kisah panggilan yang dibentuk melalui kegagalan, kebangkitan, doa, dan kesetiaan Tuhan. Berlandaskan Yesaya 49:16 dan Lukas 6:12–19, refleksi ini menegaskan bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan kedewasaan rohani. Pesta Perak Imamat menjadi momentum syukur, pembaruan komitmen, serta kesaksian bagi kaum muda dan calon imam untuk terus membuka diri terhadap karya Tuhan.
Ada perjalanan hidup yang tidak selalu berjalan lurus. Ada harapan yang tidak terwujud, keputusan yang harus ditinjau kembali, dan pengalaman kegagalan yang pada awalnya terasa seperti jalan buntu. Namun, ketika seseorang berani melihat kembali perjalanan itu dengan mata iman, ia mungkin menemukan bahwa apa yang dahulu dianggap sebagai akhir ternyata menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya. Pengalaman inilah yang dapat kita renungkan dari perjalanan 25 tahun imamat Pastor Donatus Wea, yang akrab disapa RD Don.
Pada 28 Oktober 2001, RD Don menerima Sakramen Tahbisan Imamat. Dua puluh lima tahun kemudian, dalam perayaan syukur keluarga di Mopah Lama, pada 28 Oktober 2026, ia kembali menengok perjalanan panggilannya. Melalui homilinya, ia mengungkapkan pengalaman yang sederhana, tetapi menyimpan makna spiritual yang mendalam: perjalanan menuju imamat tidak terlepas dari pengalaman pernah memasuki biara Karmelit, mengalami kegagalan, kemudian kembali dan akhirnya menjadi imam.
Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami moto tahbisannya, yang diambil dari Kitab Yesaya 49:16: “Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku.”
Kegagalan yang Tidak Mengakhiri Panggilan
Dalam pandangan manusia, kegagalan sering dianggap sebagai tanda ketidakmampuan. Orang yang gagal terkadang merasa kehilangan arah, bahkan meragukan nilai dirinya sendiri. Tidak jarang, pengalaman semacam itu disimpan sebagai luka yang tidak ingin diceritakan kembali.
Namun, perjalanan RD Don mengajak kita melihat pengalaman tersebut dari sudut yang berbeda. Kegagalan memasuki atau menjalani kehidupan membiara Karmelit tidak harus dipahami sebagai akhir dari panggilan. Pengalaman itu justru dapat menjadi bagian dari proses mengenal diri, memurnikan motivasi, dan menemukan kembali arah hidup.
Di sinilah moto tahbisannya memperoleh makna yang istimewa. Tuhan melukiskan nama manusia di telapak tangan-Nya bukan karena manusia itu sempurna, melainkan karena manusia tetap berharga di hadapan-Nya. Telapak tangan menjadi gambaran kedekatan, perhatian, dan kesetiaan Tuhan yang tidak mudah dihapus oleh perubahan keadaan hidup manusia.
Garis kehidupan seseorang mungkin tidak selalu lurus. Ada garis yang patah, berbelok, bahkan seolah-olah terputus. Namun, dalam terang iman, garis-garis itu tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang merusak keseluruhan lukisan. Pengalaman jatuh dan bangkit dapat menjadi bagian dari kisah panggilan yang semakin matang.
Karena itu, kegagalan bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, tetapi juga bukan sesuatu yang harus disembunyikan dengan rasa malu. Ia dapat menjadi tanah subur bagi pertumbuhan, apabila dihadapi dengan kejujuran, kerendahan hati, dan keterbukaan terhadap bimbingan Tuhan.
Imamat yang Bertumbuh dalam Doa dan Pengalaman
Injil Lukas 6:12–19, yang menjadi salah satu titik refleksi, mengisahkan Yesus yang pergi ke bukit untuk berdoa dan menghabiskan malam dalam doa kepada Allah sebelum memilih kedua belas rasul. Peristiwa ini memperlihatkan hubungan erat antara doa dan keputusan penting dalam kehidupan Yesus.
Pemilihan para rasul tidak digambarkan sebagai keputusan yang lahir dari kalkulasi manusia semata. Sebelum menetapkan mereka yang akan menyertai-Nya, Yesus mengambil waktu untuk berdoa. Doa menjadi ruang untuk tinggal dalam relasi dengan Bapa sebelum melangkah menjalankan perutusan.
Kisah ini memberikan perspektif bagi perjalanan imamat. Menjadi imam bukan sekadar menerima tahbisan dan menjalankan tugas-tugas gerejawi. Imamat merupakan panggilan yang perlu terus-menerus dihidupi, diperiksa, dan diperbarui melalui doa serta pengalaman konkret pelayanan.
Keputusan RD Don untuk kembali setelah mengalami kegagalan dapat direnungkan dalam kerangka perjalanan mencari dan menemukan kehendak Tuhan. Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa setiap keputusan dalam hidupnya selalu mudah atau seluruh pergulatannya telah selesai. Justru, perjalanan 25 tahun ini mengingatkan bahwa panggilan bertumbuh melalui proses panjang, ketika seseorang terus belajar mendengarkan Tuhan di tengah berbagai pengalaman.
Pertanyaan pentingnya ialah: sejauh mana keputusan-keputusan besar dalam perjalanan imamat lahir dari keheningan dan doa yang mendalam? Apakah ada saat-saat ketika tekanan, tuntutan, atau ketergesaan lebih dominan daripada kesediaan untuk mendengarkan?
Pertanyaan ini bukan hanya ditujukan kepada seorang imam. Setiap orang yang memikul tanggung jawab, baik dalam keluarga, pendidikan, maupun pelayanan masyarakat, membutuhkan ruang doa dan refleksi agar keputusan yang diambil tidak semata-mata mengikuti kepentingan sesaat.
Mengenali Campur Tangan Tuhan dalam Peristiwa Konkret
Pengakuan bahwa tanpa campur tangan Tuhan seseorang tidak dapat berbuat apa-apa merupakan ungkapan iman yang mendasar. Akan tetapi, ungkapan itu menjadi lebih hidup ketika dihubungkan dengan pengalaman konkret.
Bagaimana Tuhan hadir dalam perjalanan 25 tahun imamat? Mungkin melalui orang-orang yang memberikan dukungan, komunitas yang menerima, pengalaman kegagalan yang membuka kesadaran baru, Kitab Suci yang menerangi pergulatan, atau peristiwa sederhana yang membantu seseorang menemukan kembali kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.
Kehadiran Tuhan tidak selalu datang melalui peristiwa luar biasa. Terkadang, Ia bekerja melalui orang yang bersedia mendengarkan, nasihat yang datang pada saat yang tepat, atau pengalaman sulit yang perlahan-lahan menumbuhkan kebijaksanaan.
Karena itu, mengenang perjalanan imamat bukan sekadar menghitung tahun pelayanan atau mengingat berbagai keberhasilan. Lebih dari itu, mengenang berarti membaca kembali kehidupan untuk mengenali jejak kesetiaan Tuhan. Kesaksian iman menjadi semakin bermakna ketika pengalaman konkret diceritakan secara jujur, sehingga orang lain dapat menemukan harapan dalam kisah tersebut.
Membiarkan Tuhan Melanjutkan Lukisan-Nya
Pesta Perak Imamat bukan hanya kesempatan untuk menoleh ke masa lalu, melainkan juga saat untuk memandang masa depan. Dua puluh lima tahun pertama menyimpan pengalaman, pergulatan, pembelajaran, dan rahmat. Namun, perjalanan panggilan tidak berhenti pada sebuah perayaan.
Di hadapan Tuhan, pertanyaan yang lebih mendalam ialah: apa yang sedang dilukiskan-Nya sekarang? Apakah seseorang masih bersedia membiarkan Tuhan membimbing dan membentuk hidupnya, atau mulai merasa bahwa pengalaman dan keberhasilan masa lalu sudah cukup menjadi pegangan?
Pertanyaan ini mengundang setiap orang untuk memeriksa kembali kerendahan hati dan keterbukaannya terhadap pembaruan. Bagi seorang imam, kesetiaan tidak hanya berarti bertahan dalam jabatan atau menyelesaikan tugas pelayanan. Kesetiaan juga berarti terus membiarkan diri dibentuk oleh Injil, belajar dari orang lain, menerima keterbatasan, dan menemukan cara-cara baru untuk melayani umat.
Kesaksian tentang kegagalan dan kebangkitan juga memiliki arti penting bagi kaum muda serta para calon imam yang sedang membangun masa depan. Mereka perlu mengetahui bahwa perjalanan panggilan bukanlah jalan yang bebas dari keraguan dan pergulatan. Kisah RD Don dapat menjadi pengingat bahwa pengalaman gagal tidak dengan sendirinya menutup kemungkinan untuk bertumbuh dan menemukan arah hidup yang baru.
Dalam rangka itu, waktu menjelang peringatan tahbisan dapat dijadikan kesempatan untuk mengambil jarak dari kesibukan, menyediakan malam doa, mengenang perjalanan, dan memperbarui komitmen. Seperti Yesus yang berdoa sebelum memilih para rasul, keheningan dapat membantu seseorang melihat kembali hidupnya dengan lebih jernih.
Pada akhirnya, dua puluh lima tahun imamat RD Don mengajak kita memahami bahwa panggilan bukan terutama kisah tentang kehebatan manusia, melainkan tentang kesetiaan Tuhan yang bekerja melalui manusia yang terbatas. Nama yang dilukiskan di telapak tangan-Nya menjadi tanda bahwa kehidupan manusia tetap berada dalam jangkauan kasih-Nya.
Semoga RD Don terus menemukan makna panggilannya dalam setiap pengalaman, baik yang membahagiakan maupun yang menantang. Semoga ia tetap bersedia membiarkan Tuhan melanjutkan lukisan-Nya, garis demi garis, hari demi hari, dalam kesetiaan melayani Gereja dan umat.
Merauke, 29 Oktober 2026
Agustinus Gereda



