Anak Belajar dari Apa yang Kita Lakukan

Opini & Refleksi

Anak Belajar dari Apa yang Kita Lakukan

Serial “MENJADI GURU” Bagian I: Memahami Makna Menjadi Pendidik

Peserta didik tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari apa yang dilihat dan dialaminya dalam keseharian. Sikap, cara berbicara, kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan cara guru menghadapi kesalahan menjadi bagian dari proses pendidikan. Refleksi ini mengajak calon guru menyadari bahwa keteladanan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesediaan menghadirkan kesesuaian antara nilai yang diajarkan dan tindakan yang dilakukan. Dengan demikian, guru mendidik bukan hanya melalui pelajaran, tetapi juga melalui kehidupannya.

Suatu pagi, dalam sebuah percakapan di kelas di STK St. Yakobus Merauke, seorang mahasiswa calon guru bercerita tentang pengalaman kecilnya ketika mengikuti praktik pembelajaran di sekolah.

Guru meminta anak-anak agar datang tepat waktu. Ia juga mengingatkan mereka bahwa disiplin merupakan bagian penting dari keberhasilan belajar. Anak-anak mengangguk. Nasihat itu terdengar baik.

Tetapi beberapa hari kemudian, guru tersebut datang terlambat.

Tidak ada anak yang berkomentar. Pelajaran tetap berlangsung seperti biasa. Namun, seorang mahasiswa yang mengamati kelas itu kemudian berkata, “Anak-anak mungkin lebih ingat guru datang terlambat daripada nasihat tentang disiplin.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pertanyaan penting bagi siapa saja yang ingin menjadi guru: ‘Apa yang sebenarnya dipelajari anak dari gurunya?’

Ketika Perilaku Menjadi Pelajaran

Guru memang mengajar melalui kata-kata. Ia menjelaskan matematika, bahasa, agama, sains, atau berbagai pengetahuan lainnya. Tetapi pada saat yang sama, guru juga mengajar melalui perilaku.

Ketika guru meminta anak berbicara sopan, sementara ia sendiri mudah membentak, anak menerima dua pelajaran sekaligus: satu dari perkataan dan satu dari perilaku.

Ketika guru mengajarkan kejujuran, tetapi tidak mau mengakui kesalahannya, anak melihat adanya jarak antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

Sebaliknya, ketika guru berani mengatakan, “Saya tadi keliru,” anak belajar bahwa mengakui kesalahan bukan sesuatu yang memalukan. Ketika guru mendengarkan pendapat murid dengan sabar, anak belajar menghargai orang lain. Ketika guru memperlakukan semua peserta didik dengan hormat, anak belajar bahwa setiap manusia memiliki martabat.

Dengan demikian, keteladanan bukan pelajaran tambahan di luar pembelajaran. Keteladanan adalah bagian dari pembelajaran itu sendiri.

Mengapa Anak Lebih Mudah Mengingat Sikap Guru?

Anak dan peserta didik belajar bukan hanya melalui apa yang mereka dengar, tetapi juga melalui apa yang mereka lihat dan alami.

Dalam pendidikan, hal ini penting karena guru mempunyai posisi yang khas. Guru menjadi figur yang diamati setiap hari. Cara ia masuk kelas, menyapa peserta didik, menghadapi kesalahan, menerima kritik, menyelesaikan konflik, dan memperlakukan orang lain perlahan menjadi bagian dari pengalaman pendidikan anak.

Itulah sebabnya guru tidak pernah benar-benar “tidak mengajar”.

Bahkan ketika guru sedang tidak menjelaskan materi, ia tetap memberikan pesan melalui sikapnya.

Di Papua Selatan, persoalan ini menjadi semakin menarik karena pendidikan berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang kaya akan relasi sosial dan budaya. Calon guru tidak hanya akan membawa buku dan metode pembelajaran ke sekolah, tetapi juga membawa dirinya sebagai pribadi.

Cara menghargai peserta didik, menghormati keluarga, memahami perbedaan budaya, dan membangun hubungan dengan lingkungan sekitar merupakan bagian dari pendidikan yang mereka hadirkan.

Karena itu, menjadi teladan tidak berarti tampil sempurna. Menjadi teladan berarti berusaha menghadirkan ‘kesesuaian antara nilai yang diajarkan dan kehidupan yang dijalani’.

Guru Tidak Harus Sempurna

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Ketika berbicara tentang keteladanan, jangan sampai muncul gambaran bahwa guru harus menjadi manusia tanpa cela.

Guru tetap manusia. Ia dapat lelah, lupa, keliru, atau kehilangan kesabaran. Keteladanan justru terlihat dari bagaimana guru menghadapi kelemahan tersebut.

Guru yang melakukan kesalahan lalu menyalahkan orang lain memberikan satu pelajaran. Guru yang melakukan kesalahan lalu mengakuinya dan berusaha memperbaikinya memberikan pelajaran yang berbeda.

Karena itu, keteladanan tidak selalu berbentuk tindakan besar. Kadang-kadang ia muncul dalam hal yang sangat sederhana: datang sesuai waktu, menepati janji, mengembalikan barang yang dipinjam, mendengarkan murid sampai selesai berbicara, atau meminta maaf ketika bersalah.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tampak sepele bagi orang dewasa. Bagi peserta didik, semuanya dapat menjadi pengalaman belajar.

Apa yang Dapat Dilakukan Guru?

Pertama, periksa kembali kesesuaian antara perkataan dan tindakan. Guru dapat bertanya kepada diri sendiri: nilai apa yang saya ajarkan? Apakah nilai itu tampak dalam perilaku saya?

Kedua, jadikan kebiasaan sehari-hari sebagai ruang pendidikan. Ketepatan waktu, kebersihan, cara berbicara, kejujuran, tanggung jawab, dan sikap menghargai orang lain tidak harus selalu diajarkan melalui ceramah.

Ketiga, berani mengakui kesalahan. Tidak semua kekeliruan harus ditutupi demi mempertahankan wibawa. Anak justru dapat belajar banyak ketika melihat gurunya bertanggung jawab atas kesalahan.

Keempat, perlakukan peserta didik sebagai manusia yang bermartabat. Jangan mempermalukan anak di depan teman-temannya hanya karena ia belum memahami pelajaran atau melakukan kesalahan.

Kelima, jadilah pembelajar. Guru yang terus belajar menunjukkan bahwa pengetahuan bukan milik orang yang sudah selesai, tetapi sesuatu yang terus dicari.

Calon Guru Perlu Bercermin

Bagi mahasiswa calon guru, pertanyaan tentang keteladanan sebaiknya tidak menunggu sampai mereka berdiri sebagai guru di sekolah.

Sejak berada di bangku kuliah, mereka sudah sedang belajar menjadi guru.

Cara berbicara kepada dosen, cara bekerja dalam kelompok, cara mengerjakan tugas, cara menggunakan teknologi, cara mengakui kesalahan, bahkan cara memperlakukan teman yang berbeda kemampuan—semuanya merupakan latihan menjadi pendidik.

Karena itu, calon guru perlu bertanya bukan hanya, “Metode mengajar apa yang akan saya gunakan?”, tetapi juga, “Pribadi seperti apakah yang akan dilihat oleh peserta didik ketika saya mengajar?”

Pertanyaan ini penting karena suatu hari nanti seorang anak mungkin tidak mengingat semua materi yang pernah diajarkan gurunya. Ia mungkin lupa definisi, rumus, atau halaman buku yang pernah dibacanya.

Tetapi ia bisa mengingat bagaimana gurunya memperlakukannya.

Ia bisa mengingat guru yang pernah percaya kepadanya ketika orang lain meragukannya. Ia bisa mengingat guru yang tidak mempermalukannya ketika ia salah. Ia bisa mengingat guru yang mengajarinya bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan.

Yang Kita Tinggalkan

Pada akhirnya, menjadi guru bukan hanya tentang apa yang berhasil kita masukkan ke dalam kepala peserta didik, tetapi juga tentang ‘apa yang tertinggal di dalam diri mereka setelah perjumpaan dengan kita’.

Guru boleh lupa satu materi. Peserta didik boleh lupa satu tugas. Tetapi pengalaman tentang bagaimana seorang guru memperlakukan manusia dapat tinggal jauh lebih lama.

Maka, sebelum meminta anak menjadi jujur, guru perlu belajar jujur. Sebelum meminta anak bertanggung jawab, guru perlu menunjukkan tanggung jawab. Sebelum meminta anak menghargai sesama, guru perlu lebih dahulu menghargai mereka.

‘Anak mungkin tidak selalu melakukan apa yang kita katakan. Tetapi mereka sangat mungkin belajar dari apa yang mereka lihat kita lakukan.’

Karena itu, menjadi guru berarti bersedia hidup dalam kesadaran bahwa diri kita sendiri adalah bagian dari pelajaran.

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk keteladanan yang paling sederhana sekaligus paling sulit: ‘mengajarkan sesuatu melalui cara kita menjalaninya.’ (*)

Merauke, 18 September 2026

Agustinus Gereda

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.