Ketika Guru Berani Berkata: Saya Bisa Salah
Serial “Menjadi Guru” Bagian I Memahami Makna Menjadi Pendidik
Guru bukan manusia sempurna yang selalu benar di hadapan peserta didik. Ia dapat keliru, kehilangan kesabaran, atau mengambil keputusan yang perlu diperbaiki. Refleksi ini mengajak calon guru melihat kesalahan bukan sebagai ancaman terhadap kewibawaan, melainkan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Keberanian mengakui kekeliruan, menerima kritik, meminta maaf, dan terus belajar merupakan bentuk kerendahan hati sekaligus keteladanan. Guru yang bersedia memperbaiki diri menunjukkan bahwa pendidikan juga dimulai dari keberanian mendidik dirinya sendiri.
Suatu pagi dalam sebuah perkuliahan di STK St. Yakobus Merauke, seorang dosen menjelaskan sebuah konsep kepada mahasiswa. Penjelasan berlangsung cukup lancar. Beberapa mahasiswa mencatat, yang lain menyimak. Sampai seorang mahasiswa mengangkat tangan.
“Pak, apakah yang tadi dijelaskan tidak berbeda dengan contoh yang ada di buku?”
Pertanyaan itu membuat dosen berhenti sejenak. Buku dibuka. Contoh diperiksa. Ternyata mahasiswa itu benar. Ada bagian penjelasan yang perlu diluruskan.
Dosen itu kemudian mengatakan sederhana, “Ya, kamu benar. Penjelasan saya tadi kurang tepat.”
Tidak ada yang istimewa dalam kalimat tersebut. Namun, justru di situlah terdapat sebuah pelajaran.
Seorang guru atau dosen ternyata dapat mengajar tanpa harus selalu tampak benar.
Ketika Guru Takut Mengakui Kesalahan
Mengapa mengakui kesalahan kadang terasa begitu sulit bagi seorang pendidik?
Mungkin karena sejak lama guru ditempatkan sebagai orang yang dianggap paling tahu di kelas. Ia berdiri di depan, sementara peserta didik duduk mendengarkan. Guru menjelaskan, murid bertanya. Guru memberi nilai, murid menerima. Posisi itu secara tidak langsung menciptakan jarak dan kewibawaan.
Akibatnya, ada guru yang merasa bahwa mengakui kesalahan akan mengurangi wibawanya.
Padahal, wibawa dan kesempurnaan adalah dua hal yang berbeda.
Guru tidak harus menjadi manusia tanpa kesalahan untuk dihormati. Justru ketika guru mampu mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaikinya, peserta didik melihat sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar kepandaian: integritas.
Anak-anak di sekolah pun sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara perkataan dan tindakan. Guru dapat berbicara panjang tentang kejujuran, tetapi satu tindakan tidak jujur yang mereka lihat atau alami dapat menjadi pelajaran yang lebih kuat daripada seluruh nasihat di kelas.
Guru Juga Manusia
Guru adalah manusia. Karena itu, ia dapat keliru.
Ia bisa salah memahami pertanyaan murid. Ia bisa salah menjelaskan sebuah konsep. Ia bisa salah menilai kemampuan peserta didik. Ia bisa kehilangan kesabaran. Bahkan, ia bisa mengambil keputusan yang kemudian disadarinya kurang tepat.
Kesadaran seperti ini bukan alasan untuk menjadi guru yang ceroboh. Sebaliknya, justru menjadi alasan untuk lebih berhati-hati.
Di sinilah kerendahan hati menjadi penting dalam pendidikan.
Guru yang rendah hati tidak berarti guru yang tidak percaya diri. Ia tetap memiliki pengetahuan dan kewibawaan, tetapi tidak merasa perlu menunjukkan bahwa dirinya selalu lebih tahu daripada peserta didik.
Ia dapat mengatakan, “Saya belum tahu.”
Ia dapat berkata, “Mari kita cari jawabannya bersama.”
Dan ketika ternyata ia salah, ia dapat mengatakan, “Saya keliru.”
Tiga kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung pelajaran yang besar bagi peserta didik: belajar tidak berhenti pada guru, kebenaran tidak dimiliki seseorang sendirian, dan kesalahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Keteladanan yang Tidak Banyak Bicara
Pendidikan karakter sering dibicarakan dalam bentuk nasihat. Anak diajak jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan berani mengakui kesalahan.
Namun, karakter paling mudah dipelajari ketika peserta didik melihatnya dalam kehidupan nyata.
Seorang guru yang datang tepat waktu sedang mengajarkan disiplin. Guru yang mendengarkan murid sedang mengajarkan penghargaan. Guru yang meminta maaf ketika keliru sedang mengajarkan tanggung jawab. Guru yang mau belajar dari peserta didik sedang mengajarkan kerendahan hati.
Dengan demikian, keteladanan tidak selalu membutuhkan kata-kata.
Bahkan, kadang-kadang ‘sikap guru yang sederhana lebih kuat daripada nasihat yang panjang’.
Hal ini penting bagi calon guru di STK St. Yakobus Merauke. Kelak mereka akan berhadapan dengan peserta didik dalam lingkungan Papua Selatan yang beragam. Mereka tidak hanya membawa pengetahuan dan metode pembelajaran ke dalam kelas, tetapi juga membawa dirinya sendiri. Cara berbicara, bersikap, menghadapi perbedaan, dan menyelesaikan persoalan akan menjadi bagian dari pengalaman pendidikan peserta didik.
Apa yang Dapat Dilakukan Guru?
Pertama, ‘berani melakukan refleksi’. Setelah pembelajaran, guru dapat bertanya kepada dirinya: Apa yang sudah baik? Di mana saya keliru? Apakah ada peserta didik yang belum saya dengarkan?
Kedua, ‘membangun ruang bagi pertanyaan dan kritik’. Peserta didik tidak perlu takut berbeda pendapat dengan guru. Kelas yang sehat bukan kelas yang semua jawabannya berasal dari guru.
Ketiga, ‘membedakan kesalahan dengan kegagalan’. Kesalahan dalam pembelajaran dapat menjadi bahan evaluasi. Yang lebih bermasalah adalah ketika kesalahan disembunyikan dan tidak dijadikan pelajaran.
Keempat, ‘terus belajar’. Guru yang merasa sudah selesai belajar sebenarnya sedang kehilangan salah satu ciri penting seorang pendidik. Buku, pengalaman, kolega, teknologi, lingkungan, bahkan peserta didik dapat menjadi sumber pembelajaran.
Kelima, ‘berani meminta maaf’. Permintaan maaf seorang guru tidak otomatis menghilangkan kewibawaannya. Dalam banyak keadaan, justru itulah bentuk kewibawaan yang matang.
Sebelum Membentuk Anak, Bentuklah Diri
Calon guru sering sibuk memikirkan bagaimana mengendalikan kelas, memilih metode yang tepat, membuat media pembelajaran, atau memperoleh nilai praktik mengajar yang baik. Semua itu penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: pribadi seperti apakah yang akan berdiri di depan anak-anak nanti?
Apakah saya mampu mengakui kesalahan?
Apakah saya bersedia mendengarkan orang yang lebih muda?
Apakah saya dapat menerima kritik?
Apakah saya mau belajar dari pengalaman?
Apakah saya berani mengatakan “saya tidak tahu”?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin lebih penting daripada sekadar kemampuan tampil meyakinkan di depan kelas.
Sebab peserta didik tidak membutuhkan guru yang pura-pura sempurna. Mereka membutuhkan guru yang ‘jujur, manusiawi, kompeten, dan terus bertumbuh’.
Pada akhirnya, menjadi guru bukan berarti berhenti menjadi pembelajar. Justru sebaliknya, semakin seseorang memahami tanggung jawab keguruan, semakin ia menyadari bahwa masih banyak yang harus dipelajari.
Maka, mungkin salah satu kalimat yang perlu dibawa calon guru ketika kelak memasuki ruang kelas adalah kalimat yang sangat sederhana:
“Saya tidak selalu benar. Tetapi saya bersedia belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama kalian.”
Di situlah kelemahan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus disembunyikan. Ia dapat menjadi pintu menuju kerendahan hati. Dan dari kerendahan hati itu, perlahan tumbuh keteladanan—sebuah kualitas penting dalam perjalanan menjadi guru yang bertanggung jawab dan bermartabat. (*)
Merauke, 14 September 2026
Agustinus Gereda



