Tegas Tanpa Melukai: Ketika Wibawa Bertemu Kepedulian

Opini & Refleksi

Tegas Tanpa Melukai: Ketika Wibawa Bertemu Kepedulian

Serial MENJADI GURU Bagian IV Pedagogi Relasional: Mendidik dengan Hati dan Akal Budi

Ketegasan merupakan bagian penting dari tanggung jawab guru dalam menjaga ketertiban dan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Namun, ketegasan tidak harus diwujudkan melalui suara keras, ancaman, atau tindakan yang merendahkan peserta didik. Melalui pedagogi relasional, guru diajak menegakkan aturan secara adil, konsisten, dan proporsional, sekaligus menghormati martabat setiap anak. Bagi calon guru, kemampuan mengelola emosi dan kewenangan menjadi dasar membangun wibawa yang mendidik serta relasi yang sehat.

Suatu pagi di STK St. Yakobus Merauke, perkuliahan sedang berlangsung ketika beberapa mahasiswa di bagian belakang kelas mulai berbicara sendiri. Suara mereka perlahan mengganggu mahasiswa lain yang sedang menyimak. Dosen menghentikan penjelasan dan menegur mereka dengan nada tinggi. Kelas mendadak sunyi. Mahasiswa yang ditegur menunduk, sementara yang lain kembali memperhatikan.

Perkuliahan berlanjut, tetapi suasana terasa berbeda. Tidak ada lagi percakapan, bahkan ketika dosen membuka kesempatan bertanya. Seorang mahasiswa yang biasanya aktif memilih diam. Setelah kelas selesai, ia mengatakan kepada temannya bahwa ia sebenarnya ingin bertanya, tetapi takut kembali ditegur.

Dosen memang berhasil menghentikan kegaduhan. Namun, ketenangan yang tercipta ternyata menyisakan sesuatu: sebagian mahasiswa merasa enggan mengambil bagian dalam pembelajaran.

Peristiwa ini sederhana dan mungkin pernah terjadi di banyak ruang kelas. Guru menghadapi perilaku yang mengganggu, lalu harus memutuskan bagaimana menanggapinya. Teguran diperlukan, tetapi cara menyampaikan teguran juga memiliki akibat. Ketika ketegasan berubah menjadi kemarahan, ketertiban mungkin tercapai, tetapi hubungan pedagogis bisa terluka.

Pertanyaan: Apakah Wibawa Harus Ditunjukkan dengan Suara Keras?

Dalam pendidikan, guru memiliki tanggung jawab menjaga suasana belajar. Ia perlu memastikan bahwa kegiatan berlangsung tertib, hak peserta didik untuk belajar dihormati, dan aturan kelas dijalankan. Karena itu, ketegasan bukan sesuatu yang perlu dihindari.

Namun, ketegasan sering disamakan dengan kekerasan suara, ancaman, atau hukuman yang membuat peserta didik takut. Ada anggapan bahwa guru yang lembut akan kehilangan wibawa, sedangkan guru yang keras lebih mudah ditaati. Anggapan ini perlu diperiksa kembali.

Kepatuhan yang muncul karena takut belum tentu menunjukkan pemahaman atau tanggung jawab. Peserta didik mungkin berhenti melakukan sesuatu ketika guru hadir, tetapi kembali melakukannya ketika pengawasan berkurang. Sebaliknya, aturan yang dipahami dan diterima sebagai sesuatu yang adil dapat membantu peserta didik belajar mengatur perilakunya sendiri.

Pertanyaan pentingnya bukan apakah guru perlu tegas, melainkan bagaimana ketegasan dijalankan agar tetap mendidik. Bagaimana guru menjaga aturan tanpa mempermalukan? Bagaimana ia mengoreksi perilaku tanpa merendahkan pribadi? Dan bagaimana wibawa dibangun melalui keadilan, bukan ketakutan?

Refleksi Pedagogis: Ketegasan yang Menghormati Martabat

Pedagogi relasional mengingatkan bahwa setiap tindakan guru berlangsung dalam hubungan dengan manusia lain. Teguran, pujian, aturan, dan keputusan disiplin bukan sekadar teknik mengelola kelas. Semuanya menyampaikan pesan tentang bagaimana guru memandang peserta didik.

Ketegasan yang mendidik membedakan perilaku dari pribadi. Guru dapat mengatakan bahwa tindakan tertentu mengganggu pembelajaran tanpa menyebut peserta didik sebagai anak nakal atau tidak tahu aturan. Perilaku perlu dikoreksi; martabat orang yang melakukan perilaku itu tetap dihormati.

Ketegasan juga membutuhkan konsistensi. Aturan yang berubah-ubah atau diterapkan hanya kepada mahasiswa tertentu akan menimbulkan kesan tidak adil. Sebaliknya, aturan yang jelas, diketahui bersama, dan diterapkan secara proporsional membantu membangun kepercayaan.

Di sini, wibawa guru tidak hanya berasal dari jabatan atau kemampuan mengendalikan kelas. Wibawa tumbuh ketika peserta didik melihat bahwa guru bersikap adil, menguasai dirinya, dan tidak menggunakan kekuasaan untuk melampiaskan emosi. Guru yang mampu menahan diri saat marah menunjukkan bahwa ia juga sedang belajar bertanggung jawab atas tindakannya.

Tegas bukan berarti membuat peserta didik takut kepada guru, melainkan membantu mereka memahami batas, akibat, dan tanggung jawab atas perilakunya.

Praktik: Menegakkan Aturan tanpa Merendahkan

Ketegasan yang menghormati martabat dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana.

Pertama, tetapkan aturan dan alasan di baliknya sejak awal. Peserta didik lebih mudah memahami aturan ketika mereka mengetahui bahwa aturan dibuat untuk melindungi kesempatan belajar bersama, bukan sekadar memenuhi kehendak guru.

Kedua, tegur perilaku secara spesifik dan tenang. Daripada berkata, “Kalian selalu membuat gaduh,” guru dapat mengatakan, “Percakapan di bagian belakang mengganggu teman yang sedang menyimak. Mohon dihentikan agar kita bisa melanjutkan.” Teguran seperti ini jelas, langsung, dan tidak menyerang pribadi.

Ketiga, pilih respons yang proporsional. Gangguan kecil tidak selalu membutuhkan hukuman besar. Guru dapat mendekati peserta didik, mengingatkan secara singkat, atau berbicara secara pribadi setelah kelas. Jika perilaku berulang, guru dapat mengajak peserta didik membicarakan penyebabnya dan menyepakati langkah perbaikan.

Keempat, berikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Disiplin bukan hanya soal menerima konsekuensi, tetapi juga belajar bertanggung jawab. Peserta didik dapat diminta menjelaskan dampak tindakannya, memperbaiki kerugian, atau menyusun cara agar gangguan tidak terulang.

Dalam konteks Papua Selatan, guru perlu mempertimbangkan keragaman pengalaman dan latar peserta didik tanpa membuat asumsi tentang perilaku mereka berdasarkan asal atau budaya. Memahami konteks bukan berarti membiarkan pelanggaran, melainkan memastikan respons guru didasarkan pada situasi nyata dan pertimbangan yang adil.

Refleksi: Calon Guru Perlu Belajar Mengelola Diri

Bagi mahasiswa calon guru di STK St. Yakobus Merauke, belajar menegakkan disiplin berarti juga belajar mengelola emosi dan kewenangan. Guru tidak selalu dapat mengendalikan perilaku peserta didik, tetapi ia dapat belajar mengendalikan cara meresponsnya.

Calon guru perlu bertanya kepada dirinya sendiri: ketika kelas tidak berjalan sesuai harapan, apakah saya berusaha memahami masalah atau langsung melampiaskan kejengkelan? Apakah teguran saya membantu peserta didik memperbaiki perilaku, atau hanya membuat mereka malu? Apakah aturan yang saya terapkan berlaku adil bagi semua?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena guru kelak akan berhadapan dengan anak-anak yang sedang belajar mengatur diri. Mereka membutuhkan batas yang jelas, tetapi juga orang dewasa yang memberi contoh bagaimana menghadapi kesalahan tanpa kehilangan kendali.

Mengajar dengan hati dan akal budi bukan berarti menghindari ketegasan. Justru keduanya membantu guru menentukan kapan harus menegur, bagaimana menyampaikan teguran, dan apa yang perlu dilakukan setelahnya. Ketegasan menjaga arah pembelajaran; kepedulian menjaga manusia yang sedang belajar.

Pada akhirnya, kelas yang tertib bukan hanya kelas yang diam ketika guru berbicara. Kelas yang mendidik adalah ruang tempat aturan dihormati, kesalahan dapat diperbaiki, dan setiap orang tetap merasa dirinya berharga. Wibawa guru tidak perlu dibangun dengan melukai. Ia tumbuh ketika ketegasan berjalan bersama keadilan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap martabat peserta didik. (*)

Merauke, 6 November 2026

Agustinus Gereda

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.