Sebelum Mengajar, Guru Perlu Belajar Mendengarkan

Opini & Refleksi

Sebelum Mengajar, Guru Perlu Belajar Mendengarkan

Serial MENJADI GURU Bagian II Memahami Peserta Didik

Mengajar bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga tentang memahami manusia yang sedang belajar. Setiap peserta didik datang ke kelas dengan pengalaman, latar keluarga, budaya, persoalan, dan harapan yang berbeda. Karena itu, mendengarkan menjadi kompetensi pedagogis yang penting bagi seorang guru. Dengan mendengarkan, guru tidak terburu-buru menilai, tetapi berusaha memahami sebelum memberi arahan. Bagi calon guru, kemampuan mendengarkan merupakan langkah awal untuk membangun relasi pendidikan yang manusiawi, dialogis, dan bermartabat.

Suatu pagi, seorang mahasiswa PGSD di STK St. Yakobus Merauke datang terlambat ke kelas. Ia masuk dengan wajah tertunduk. Dosen sebenarnya ingin langsung menegurnya. Bukankah disiplin merupakan bagian penting dari pendidikan calon guru?

Namun, sebelum teguran keluar, dosen bertanya sederhana, “Ada apa?” Mahasiswa itu diam beberapa saat. Kemudian ia bercerita bahwa pagi itu ia harus membantu keluarganya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Ia tidak sedang sengaja mengabaikan perkuliahan.

Keterlambatan itu tetap merupakan persoalan. Tetapi setelah mendengarkan ceritanya, persoalan tersebut terlihat berbeda. Yang semula tampak sebagai ketidakdisiplinan ternyata memiliki latar belakang yang perlu dipahami.

Di situlah pendidikan sering kali dimulai: bukan ketika guru berbicara, melainkan ketika guru bersedia mendengarkan.

Mengapa Guru Perlu Mendengarkan?

Di ruang kelas, guru biasanya memiliki posisi sebagai orang yang berbicara. Guru menjelaskan, peserta didik mendengarkan. Guru bertanya, peserta didik menjawab. Guru memberi tugas, peserta didik mengerjakan.

Pola seperti itu memang diperlukan. Tetapi pendidikan akan menjadi miskin apabila hubungan guru dan peserta didik berhenti pada pola “guru berbicara, murid menerima”.

Setiap peserta didik datang ke kelas membawa sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam buku pelajaran: pengalaman keluarga, kebiasaan di rumah, bahasa yang digunakan sehari-hari, lingkungan sosial, persoalan pribadi, bahkan kecemasan dan harapan tentang masa depan.

Di Papua Selatan, keragaman itu semakin nyata. Peserta didik dapat berasal dari keluarga, budaya, lingkungan geografis, dan pengalaman hidup yang berbeda. Karena itu, perilaku yang tampak sederhana di kelas tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang terlihat.

Anak yang diam belum tentu tidak memahami pelajaran. Anak yang lambat menjawab belum tentu tidak mampu berpikir. Anak yang sering terlambat belum tentu tidak menghargai gurunya.

Di sinilah mendengarkan menjadi bagian dari kompetensi pedagogis.

Mendengarkan Bukan Sekadar Diam

Mendengarkan berbeda dari sekadar mendengar. Mendengar adalah menerima bunyi. Mendengarkan adalah berusaha memahami makna di balik apa yang dikatakan seseorang.

Guru yang mendengarkan tidak terburu-buru memberikan penilaian. Ia memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pikirannya. Ia memperhatikan kata-kata, tetapi juga memperhatikan jeda, ekspresi, keraguan, dan perubahan sikap.

Kadang-kadang peserta didik tidak mampu menjelaskan persoalannya dengan bahasa yang baik. Di sinilah guru perlu sabar. Guru tidak hanya mendengarkan kalimat yang sempurna, tetapi juga berusaha menangkap pesan yang belum mampu dirumuskan oleh peserta didik.

Mendengarkan juga bukan berarti guru selalu membenarkan apa yang dikatakan peserta didik. Guru tetap perlu memberi batas, koreksi, dan arahan. Perbedaannya terletak pada prosesnya.

Guru yang tidak mendengarkan mungkin langsung berkata, “Kamu salah.” Guru yang mendengarkan mungkin bertanya lebih dahulu, “Mengapa kamu berpikir seperti itu?” Pertanyaan kecil tersebut membuka ruang pendidikan.

Mendengarkan sebagai Cara Memahami Manusia

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya persoalan memindahkan pengetahuan. Pendidikan berhadapan dengan manusia.

Karena itu, guru tidak cukup hanya mengetahui apakah peserta didiknya memperoleh nilai tinggi atau rendah. Guru perlu bertanya lebih jauh: siapa anak ini, bagaimana ia belajar, dari lingkungan seperti apa ia datang, apa yang membuatnya bersemangat, dan apa yang mungkin membuatnya kesulitan?

Mendengarkan membantu guru melihat peserta didik sebagai pribadi, bukan sekadar angka dalam daftar nilai.

Bagi calon guru SD, kemampuan ini sangat penting. Anak-anak tidak selalu datang kepada guru dengan bahasa yang teratur. Mereka mungkin menyampaikan persoalan melalui gambar, cerita, permainan, diam, tangisan, atau perubahan perilaku. Guru yang hanya menunggu jawaban benar mungkin kehilangan pesan penting yang sebenarnya sedang disampaikan seorang anak.

Apa yang Dapat Dilakukan Guru?

Mendengarkan dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana.

Pertama, beri kesempatan peserta didik berbicara sampai selesai. Jangan terlalu cepat memotong karena guru merasa sudah mengetahui jawabannya.

Kedua, ajukan pertanyaan terbuka. Pertanyaan seperti “Mengapa kamu berpikir demikian?” sering lebih mendidik daripada pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”.

Ketiga, bedakan perilaku dengan pribadi. Ketika seorang peserta didik melakukan kesalahan, koreksilah tindakannya tanpa segera memberi cap pada dirinya.

Keempat, perhatikan peserta didik yang jarang berbicara. Suara yang paling pelan di kelas bukan berarti tidak penting.

Kelima, sediakan ruang percakapan. Tidak semua persoalan harus diselesaikan di depan seluruh kelas. Kadang-kadang percakapan singkat secara pribadi justru membuat peserta didik berani terbuka. Dan yang tidak kalah penting, guru perlu belajar mendengarkan tanpa selalu merasa harus segera memberikan jawaban.

Refleksi untuk Calon Guru

Calon guru sering mempersiapkan diri dengan banyak hal: menguasai materi, menyusun modul ajar, membuat media pembelajaran, memilih metode, dan mempersiapkan evaluasi.

Semua itu penting. Tetapi ada satu kemampuan yang mungkin tidak selalu tertulis dalam perangkat pembelajaran: ‘kemampuan untuk mendengarkan manusia yang akan dididiknya’.

Guru yang pandai berbicara dapat menyampaikan banyak pengetahuan. Guru yang pandai mendengarkan dapat menemukan banyak hal tentang peserta didiknya.

Mungkin karena itu, sebelum calon guru belajar bagaimana membuat anak berbicara, ia perlu lebih dahulu belajar bagaimana mendengarkan. Sebab seorang guru tidak akan sungguh-sungguh memahami peserta didik hanya dengan melihat nilai, absensi, dan perilakunya di kelas.

Ia perlu mendengar ceritanya. Dan ketika guru mulai mendengarkan, peserta didik perlahan belajar satu hal yang sangat penting: “Saya dilihat bukan hanya sebagai murid, tetapi sebagai manusia.”

Merauke, 05 Oktober 2026

Agustinus Gereda

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.