Pertanyaan yang Baik Tidak Sekadar Meminta Jawaban, Tetapi Membuka Pikiran

Opini & Refleksi

Pertanyaan yang Baik Tidak Sekadar Meminta Jawaban, Tetapi Membuka Pikiran

Serial MENJADI GURU Bagian III: Memahami Proses Belajar dan Mengajar

Pertanyaan merupakan bagian penting dalam pembelajaran karena tidak hanya menguji pengetahuan, tetapi juga membangkitkan pemikiran. Artikel ini mengajak guru dan calon guru memahami pentingnya merancang pertanyaan yang mendorong peserta didik mengemukakan alasan, menghubungkan pengalaman, menganalisis persoalan, dan mengembangkan pemahaman. Dalam konteks pendidikan Papua Selatan, khususnya pendidikan calon guru di STK Santo Yakobus Merauke, keterampilan bertanya perlu disertai kesediaan mendengarkan, menghargai perbedaan jawaban, dan memberikan waktu untuk berpikir.

Bayangkan sebuah perkuliahan di STK Santo Yakobus Merauke. Dosen menjelaskan materi tentang proses belajar anak sekolah dasar. Setelah penjelasan selesai, ia bertanya, “Apakah kalian sudah mengerti?” Hampir seluruh mahasiswa menjawab serentak, “Sudah!”

Perkuliahan berlanjut tanpa hambatan. Namun, ketika dosen mengajukan pertanyaan lain, “Mengapa seorang anak bisa menghafal pelajaran, tetapi kesulitan menjelaskan maknanya?”, kelas mendadak hening. Beberapa mahasiswa membuka catatan. Sebagian menunduk, sementara yang lain tampak mencari jawaban yang dianggap paling tepat.

Dosen kemudian memberikan penjelasan tambahan. Mahasiswa kembali mencatat. Perkuliahan berjalan lancar sampai selesai.

Sekilas, tidak ada yang aneh. Materi telah disampaikan, pertanyaan sudah diajukan, dan mahasiswa mengikuti kegiatan dengan tertib. Namun, ada sesuatu yang belum terjadi: kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan pemikirannya sendiri.

Kisah ini merupakan gambaran sederhana yang mungkin dijumpai dalam kehidupan pendidikan. Kita terbiasa bertanya untuk memastikan apakah orang lain mengetahui sesuatu. Kita lebih jarang bertanya untuk mengetahui bagaimana mereka berpikir, mengapa mereka mengambil kesimpulan tertentu, dan apa yang membuat mereka sampai pada kesimpulan itu.

Pertanyaan: Mengapa Kita Lebih Suka Menjelaskan?

Mengapa pertanyaan yang sederhana sering menghasilkan jawaban singkat, sementara pertanyaan yang menuntut penalaran justru menghadirkan keheningan? Apakah peserta didik tidak memahami materi, takut salah, atau belum terbiasa mengemukakan pendapat?

Boleh jadi, persoalannya tidak hanya terletak pada peserta didik. Cara guru mengajukan pertanyaan turut menentukan kualitas percakapan di kelas.

Jika pertanyaan hanya menuntut jawaban yang sudah tersedia dalam buku, peserta didik akan belajar mencari jawaban yang diharapkan guru. Jika setiap jawaban yang berbeda segera dianggap keliru, mereka mungkin memilih diam daripada mengambil risiko. Lama-kelamaan, kelas menjadi tempat mencari jawaban yang aman, bukan ruang untuk menguji gagasan.

Guru pun sering tergoda segera menjelaskan ketika kelas hening. Keheningan dianggap sebagai tanda bahwa peserta didik tidak mengetahui apa-apa. Padahal, mereka mungkin sedang menyusun pikiran, mencari kata-kata, atau mencoba menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman.

Pertanyaannya bukan semata-mata mengapa murid tidak menjawab, melainkan apakah kita telah memberikan pertanyaan yang layak untuk dipikirkan dan waktu yang cukup untuk menjawabnya.

Refleksi Pedagogis: Pertanyaan sebagai Jalan Berpikir

Dalam pembelajaran, pertanyaan bukan sekadar alat untuk memeriksa ingatan. Pertanyaan juga dapat menjadi jalan untuk membangun pemahaman. Melalui pertanyaan yang tepat, peserta didik diajak bergerak dari mengetahui menuju memahami, dari memahami menuju menganalisis, dan dari menganalisis menuju kemampuan mengambil keputusan berdasarkan alasan.

Pertanyaan “Apa pengertian disiplin?” terutama menguji pengetahuan. Pertanyaan “Mengapa disiplin penting bagi kehidupan bersama?” mengajak peserta didik mencari alasan. Sementara itu, pertanyaan “Bagaimana sebaiknya guru menghadapi anak yang berulang kali terlambat karena harus membantu orang tuanya?” membuka ruang untuk mempertimbangkan konteks, tanggung jawab, dan keadilan.

Ketiganya memiliki kegunaan. Persoalannya ialah apakah guru memberi kesempatan yang seimbang bagi peserta didik untuk mengingat, memahami, menalar, dan menerapkan pengetahuan.

Dalam konteks pendidikan Papua Selatan, pertanyaan yang membuka pemikiran juga membantu calon guru memahami bahwa perilaku anak tidak selalu dapat dilepaskan dari kehidupan yang melingkupinya. Anak yang diam belum tentu tidak tahu. Anak yang terlambat belum tentu tidak disiplin. Anak yang menjawab berbeda belum tentu tidak memahami persoalan.

Pertanyaan yang baik membantu guru menunda penilaian dan mendengarkan sebelum menyimpulkan. Dengan demikian, bertanya bukan hanya keterampilan mengajar, melainkan juga cara menghormati pengalaman dan martabat peserta didik.

Praktik: Belajar Merancang Pertanyaan yang Hidup

Guru tidak harus menguasai teknik bertanya yang rumit untuk memulai perubahan. Beberapa kebiasaan sederhana dapat membuat pembelajaran lebih bermakna.

Pertama, ajukan pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Jika ingin mengetahui pemahaman, mintalah peserta didik menjelaskan konsep dengan bahasa sendiri. Jika ingin mengembangkan penalaran, tanyakan alasan di balik jawaban mereka.

Kedua, gunakan pertanyaan lanjutan. Ketika seorang mahasiswa menjawab, “Anak perlu disiplin,” dosen dapat bertanya, “Mengapa disiplin itu penting?” atau “Apakah setiap pelanggaran harus diberi hukuman yang sama?” Pertanyaan lanjutan membantu peserta didik menguji pendapatnya, bukan sekadar mempertahankan jawaban pertama.

Ketiga, berikan waktu untuk berpikir. Tidak semua orang mampu menjawab segera. Peserta didik dapat diminta menuliskan gagasan terlebih dahulu, berdiskusi berpasangan, kemudian menyampaikan hasil pemikirannya. Cara ini memberi kesempatan kepada mereka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun jawaban.

Keempat, sambut jawaban dengan rasa ingin tahu. Ketika jawaban belum tepat, guru dapat bertanya, “Apa alasanmu?” atau “Adakah kemungkinan lain?” Dengan demikian, kekeliruan menjadi kesempatan belajar, bukan alasan untuk mempermalukan.

Kelima, jangan hanya menghargai jawaban yang benar. Hargai pula alasan yang masuk akal, keberanian mengajukan pertanyaan, dan kesediaan memperbaiki pendapat setelah mendengar pandangan orang lain.

Renungan: Guru yang Berani Tidak Segera Menjawab

Bagi calon guru, keterampilan bertanya menuntut perubahan sikap. Kita perlu mengurangi keinginan untuk selalu tampil paling tahu. Tidak setiap keheningan harus segera diisi penjelasan, dan tidak setiap pertanyaan harus berakhir dengan jawaban yang sudah disiapkan guru.

Ada kalanya tugas guru justru mengajukan pertanyaan, mendengarkan dengan sabar, lalu membantu peserta didik menemukan jalan berpikirnya sendiri. Guru tetap bertanggung jawab menjaga arah pembelajaran, tetapi tidak perlu menguasai seluruh ruang percakapan.

Menjadi pendidik yang bermartabat berarti mengakui bahwa peserta didik bukan sekadar penerima pengetahuan. Mereka adalah manusia yang memiliki pengalaman, rasa ingin tahu, dan kemampuan untuk berkembang.

Penjelasan yang baik dapat memberikan pengetahuan, tetapi pertanyaan yang baik dapat menumbuhkan keinginan untuk memahami. Guru tidak kehilangan wibawa ketika memberi ruang bagi murid untuk berpikir. Justru di sanalah kewibawaan pedagogis menemukan maknanya: bukan membuat murid selalu menunggu jawaban guru, melainkan membantu mereka berani mencari jawaban dengan pikiran sendiri.

Merauke, 19 Oktober 2026

Agustinus Gereda

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.