Hadir di Kelas, tetapi Belum Tentu Belajar
Serial MENJADI GURU Bagian III: Memahami Proses Belajar dan Mengajar
Kehadiran fisik peserta didik di kelas tidak selalu menandakan terjadinya proses belajar. Pembelajaran yang bermakna membutuhkan perhatian, motivasi, keterlibatan aktif, dan lingkungan belajar yang mendukung. Karena itu, guru perlu memahami faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan belajar peserta didik, bukan terburu-buru menilai mereka sebagai malas atau tidak mampu. Dalam konteks pendidikan Papua Selatan, calon guru perlu mengembangkan kepekaan pedagogis, mengevaluasi cara mengajar, dan menciptakan pembelajaran yang relevan, manusiawi, serta mendorong keterlibatan peserta didik. Tulisan ini akan menempatkan persoalan bukan semata-mata sebagai kelemahan anak, melainkan sebagai perjumpaan antara kesiapan belajar peserta didik, cara guru mengajar, dan lingkungan pembelajaran.
Dalam suatu perkuliahan di STK St. Yakobus Merauke, dosen sedang menjelaskan materi tentang pembelajaran di sekolah dasar. Mahasiswa hadir, buku terbuka, dan beberapa orang mencatat. Dari depan kelas, semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, ketika dosen berhenti menjelaskan dan meminta mahasiswa menyampaikan kembali pokok materi, suasana berubah. Sebagian diam. Ada yang membuka catatan dengan tergesa-gesa. Beberapa mahasiswa ternyata tidak sungguh-sungguh mengikuti penjelasan sejak awal.
Mereka hadir secara fisik, tetapi perhatian mereka tidak sepenuhnya berada di ruang kuliah.
Peristiwa semacam ini tidak selalu berarti mahasiswa malas. Bisa jadi penjelasan terlalu panjang, contoh kurang dekat dengan pengalaman mereka, atau kegiatan belajar tidak memberi cukup kesempatan untuk terlibat. Mungkin pula ada persoalan pribadi yang menyita perhatian.
Dosen pun menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana: apakah tugasnya selesai ketika materi telah disampaikan, atau baru dimulai ketika mahasiswa sungguh-sungguh belajar?
Mengapa Anak Bisa Hadir, tetapi Tidak Belajar?
Di sekolah, kehadiran sering menjadi tanda awal bahwa pembelajaran dapat berlangsung. Anak duduk di bangku, guru berdiri di depan kelas, buku dibuka, dan pelajaran dimulai. Namun, semua itu belum menjamin terjadinya belajar.
Belajar membutuhkan perhatian. Tanpa perhatian yang memadai, informasi sulit diolah menjadi pemahaman. Belajar juga membutuhkan motivasi, yakni alasan yang membuat seseorang bersedia mengarahkan tenaga dan pikirannya pada suatu kegiatan. Selain itu, peserta didik perlu terlibat: bertanya, mencoba, berdiskusi, menghubungkan gagasan, atau menyelesaikan persoalan.
Ketiganya tidak selalu hadir bersamaan. Anak mungkin tertarik pada pelajaran, tetapi kesulitan berkonsentrasi karena kelelahan. Anak lain mungkin memperhatikan penjelasan guru, tetapi tidak berani bertanya karena takut ditertawakan. Ada pula anak yang sebenarnya mampu, tetapi tidak melihat hubungan antara materi yang dipelajari dan kehidupan sehari-harinya.
Dalam konteks Papua Selatan, guru juga perlu mengenali keragaman pengalaman peserta didik. Kondisi keluarga, bahasa yang digunakan, perjalanan menuju sekolah, pengalaman sosial, serta suasana kelas dapat memengaruhi kesiapan belajar. Namun, tidak ada satu penjelasan yang berlaku bagi semua anak Papua. Setiap peserta didik perlu dipahami berdasarkan keadaan konkret yang dihadapinya.
Karena itu, ketika anak tidak terlibat dalam pembelajaran, pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar, “Mengapa anak ini tidak memperhatikan?” melainkan juga, “Apa yang sedang terjadi dalam dirinya dan dalam lingkungan belajarnya?”
Refleksi Pedagogis: Belajar Merupakan Perjumpaan
Laporan How People Learn II: Learners, Contexts, and Cultures (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2018) menegaskan pentingnya hubungan antara proses belajar, pengalaman peserta didik, motivasi, budaya, dan lingkungan. Pembelajaran tidak berlangsung dalam ruang hampa. Kondisi sosial, emosional, dan budaya ikut membentuk bagaimana seseorang menerima serta mengolah pengetahuan.
Gagasan ini mengajak guru melihat kelas secara lebih utuh. Peserta didik bukan wadah yang otomatis terisi ketika guru berbicara. Mereka merupakan manusia yang membawa perhatian, perasaan, pengalaman, dan kebutuhan masing-masing.
Perhatian pun tidak dapat diperlakukan sebagai tombol yang tinggal dinyalakan. Guru memang tidak dapat mengendalikan seluruh pikiran peserta didik, tetapi dapat menciptakan kondisi yang membantu mereka berkonsentrasi. Materi yang jelas, contoh yang relevan, pergantian kegiatan, pertanyaan yang menantang, dan hubungan yang aman antara guru dengan peserta didik dapat membuka kesempatan untuk belajar.
Motivasi juga tidak cukup dibangun melalui ancaman nilai buruk atau janji hadiah. Peserta didik perlu merasakan bahwa apa yang dipelajarinya memiliki makna, bahwa ia mampu berkembang, dan bahwa usahanya dihargai.
Di sinilah lingkungan belajar berperan. Kelas yang penuh ketakutan mungkin menghasilkan kepatuhan, tetapi belum tentu keberanian berpikir. Sebaliknya, kelas yang memberi ruang bertanya dan mencoba memungkinkan peserta didik terlibat tanpa terus-menerus khawatir melakukan kesalahan.
Praktik: Membuka Jalan bagi Keterlibatan
Apa yang dapat dilakukan guru? Tidak selalu diperlukan metode yang rumit atau media yang mahal.
Pertama, mulailah dengan pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu. Hubungkan materi dengan pengalaman yang dikenal peserta didik, seperti kebersihan sekolah, lingkungan tempat tinggal, makanan sehari-hari, atau hubungan dalam kehidupan bersama.
Kedua, jangan memonopoli waktu berbicara. Penjelasan guru tetap penting, tetapi perlu diselingi kegiatan yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir, menjawab, berdiskusi, dan mencoba.
Ketiga, perhatikan tanda-tanda keterlibatan. Catatan yang rapi belum tentu menunjukkan pemahaman. Sesekali mintalah peserta didik menjelaskan gagasan dengan bahasanya sendiri atau menyelesaikan persoalan sederhana.
Keempat, bangun suasana yang aman untuk belajar. Kesalahan tidak perlu menjadi alasan mempermalukan anak. Koreksi tetap diperlukan, tetapi dapat disampaikan dengan cara yang membantu peserta didik memahami letak kekeliruannya.
Kelima, cari tahu sebelum menyimpulkan. Jika seorang anak berulang kali tampak tidak terlibat, guru dapat mengajaknya berbicara secara pribadi. Dengarkan penjelasannya dan amati pola yang terjadi sebelum menentukan langkah berikutnya.
Refleksi: Apa yang Perlu Diubah Calon Guru?
Mahasiswa calon guru perlu belajar bahwa mengajar bukan sekadar menyelesaikan materi sesuai jadwal. Materi yang selesai disampaikan belum tentu dipahami. Kelas yang tenang belum tentu menandakan peserta didik sedang belajar. Sebaliknya, diskusi yang ramai pun belum tentu menghasilkan pemahaman jika tidak diarahkan dengan baik.
Calon guru perlu mengubah cara memandang keberhasilan pembelajaran: dari sekadar apa yang telah diajarkan menuju apa yang sungguh-sungguh dipelajari peserta didik.
Perubahan ini menuntut kerendahan hati. Guru perlu bersedia mengevaluasi penjelasannya sendiri, memperbaiki metode, mendengarkan umpan balik, dan mencoba pendekatan lain ketika cara sebelumnya tidak membantu.
Pada akhirnya, anak tidak belajar hanya karena ia duduk di kelas. Ia belajar ketika perhatian memperoleh arah, motivasi menemukan alasan, dan keterlibatan membuka kesempatan untuk memahami.
Maka, sebelum menyalahkan anak yang tampak tidak belajar, calon guru perlu mengajukan satu pertanyaan kepada dirinya sendiri: apakah cara saya mengajar sudah memberi ruang bagi anak untuk sungguh-sungguh belajar? (*)
Merauke, 14 Oktober 2026
Agustinus Gereda



