Terlukis Indah di Telapak Tangan Tuhan

Opini & Refleksi

Terlukis Indah di Telapak Tangan Tuhan

Refleksi Pastoral atas Perayaan Syukur 25 Tahun Imamat RD. Donatus Wea

Perayaan 25 tahun imamat RD. Donatus Wea menjadi momentum untuk mensyukuri kesetiaan Allah dalam perjalanan panggilan dan pelayanan. Berlandaskan Yesaya 49:16 dan Injil Lukas 16:9–15, refleksi ini mengangkat imamat sebagai rahmat, telapak tangan sebagai simbol pelayanan dan pengorbanan, serta sukacita yang tidak bergantung pada keberhasilan. Bagi civitas akademika STK St. Yakobus Merauke, peristiwa ini menjadi inspirasi untuk membangun integritas, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kesetiaan dalam menjalankan panggilan pengabdian.

Dua puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Ada waktu, pengalaman, pengorbanan, kegembiraan, pergulatan, dan kesetiaan yang menyertainya. Karena itu, perayaan 25 tahun imamat RD. Donatus Wea dalam Misa Bulanan Kampus STK St. Yakobus Merauke, 7 November 2026, bukan sekadar perayaan atas usia pelayanan seorang imam. Peristiwa ini menjadi kesempatan untuk merenungkan karya Allah dalam kehidupan manusia yang bersedia menjawab panggilan-Nya.

Moto tahbisan yang dipilih, “Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (Yes 49:16), memberikan dasar yang mendalam bagi refleksi tersebut. Di balik kalimat sederhana ini tersimpan pesan iman tentang kasih Allah yang tidak melupakan manusia. Nama seorang imam bukan pertama-tama terukir dalam catatan keberhasilan atau monumen prestasi, melainkan dalam telapak tangan Allah yang senantiasa memelihara dan menyertai perjalanan hidupnya.

Imamat: Rahmat yang Mendahului Kemampuan Manusia

Nabi Yesaya menyampaikan sabda Tuhan kepada umat yang sedang mengalami penderitaan dan merasa ditinggalkan. Mereka berseru, “Tuhan telah meninggalkan aku, Tuhanku telah melupakan aku” (Yes 49:14). Namun, Allah menjawab dengan gambaran kasih yang sangat personal. Sekalipun seorang ibu dapat melupakan anak yang dilahirkannya, Allah tidak akan melupakan umat-Nya.

Pernyataan itu mencapai puncaknya dalam ungkapan bahwa nama umat terlukis di telapak tangan Allah. Artinya, manusia tidak pernah kehilangan tempat dalam kasih-Nya.

Dalam terang sabda ini, 25 tahun imamat RD. Donatus mengingatkan kita bahwa panggilan hidup bukanlah hasil kehebatan manusia. Imamat pertama-tama merupakan rahmat dan anugerah Allah. Seseorang tidak dipanggil karena telah sempurna, tetapi dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kesetiaan melalui rahmat yang diterimanya.

Kesadaran ini penting, bukan hanya bagi seorang imam, melainkan juga bagi setiap orang yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Dosen tidak menjadi pendidik semata-mata karena gelar akademik. Mahasiswa tidak menjadi pribadi unggul hanya karena memperoleh nilai tinggi. Pemimpin tidak menjadi besar hanya karena jabatan yang dipercayakan kepadanya. Semua membutuhkan kerendahan hati untuk menyadari bahwa kemampuan, kesempatan, dan kepercayaan yang diterima merupakan anugerah yang harus dipertanggungjawabkan.

Telapak Tangan: Simbol Pelayanan, Pengorbanan, dan Kesetiaan

Telapak tangan memiliki makna yang dekat dengan kehidupan manusia. Dengan tangan, seseorang bekerja, menolong, memberi, menerima, memberkati, dan merangkul sesamanya. Dalam kehidupan seorang imam, tangan menjadi simbol pelayanan: tangan yang memberkati umat, mempersembahkan Ekaristi, memberikan pengampunan, dan mengulurkan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

Namun, tangan yang melayani tidak selalu terhindar dari luka. Dua puluh lima tahun pelayanan tentu menghadirkan berbagai pengalaman. Ada kegembiraan ketika pelayanan menghasilkan buah, tetapi ada pula kelelahan, kesalahpahaman, kekecewaan, dan pergulatan yang tidak selalu diketahui orang lain.

Di sinilah simbol telapak tangan memperoleh makna yang lebih dalam. Nama yang terlukis mengingatkan kita bahwa kasih sejati tidak selalu bebas dari pengorbanan. Tangan yang bekerja bagi sesama mungkin mengalami luka, tetapi luka itu tidak harus menjadi alasan untuk berhenti melayani. Dalam terang iman Kristiani, pengalaman tersebut dapat menjadi jalan untuk semakin memahami pengorbanan Kristus.

Pesan ini relevan bagi kehidupan kampus. Dunia pendidikan bukan sekadar tempat menyampaikan pengetahuan, memperoleh nilai, atau mengejar gelar. Kampus adalah ruang perjumpaan manusia, tempat setiap orang belajar menghargai, mendengarkan, membantu, dan bertanggung jawab.

Dosen membutuhkan kesabaran dalam mendampingi mahasiswa. Mahasiswa membutuhkan ketekunan dalam menghadapi kesulitan belajar. Tenaga kependidikan membutuhkan ketulusan dalam memberikan pelayanan. Pimpinan membutuhkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Semua pekerjaan itu mungkin menghadirkan tantangan, tetapi justru melalui kesetiaan menjalankan tanggung jawab, nilai kemanusiaan dan martabat pelayanan semakin nyata.

Sukacita Pelayanan Tidak Diukur dari Keberhasilan

Bacaan Injil Lukas 16:9–15 mengingatkan kita tentang sikap manusia terhadap harta dan kekuasaan. Yesus menegaskan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada Allah sekaligus kepada Mamon. Peringatan ini mengajak kita memeriksa kembali orientasi hidup: apakah kita bekerja demi nilai-nilai yang luhur atau sekadar mengejar keuntungan, pengakuan, dan pujian?

Dalam kehidupan pelayanan, godaan mengukur keberhasilan melalui angka dan pencapaian sangat mudah muncul. Seorang imam dapat tergoda menilai pelayanannya berdasarkan jumlah umat atau banyaknya kegiatan. Seorang dosen dapat mengukur dirinya melalui jabatan, publikasi, dan penghargaan. Mahasiswa dapat menganggap nilai akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Padahal, keberhasilan yang sesungguhnya tidak selalu dapat dihitung. Ada mahasiswa yang mungkin belum memperoleh nilai terbaik, tetapi sedang bertumbuh dalam kejujuran dan tanggung jawab. Ada dosen yang tidak banyak dikenal, tetapi dengan sabar mengubah kehidupan mahasiswanya. Ada pelayan Gereja yang tidak tampil di hadapan banyak orang, tetapi kehadirannya memberikan pengharapan bagi sesama.

Sukacita pelayanan lahir ketika seseorang menemukan makna dalam apa yang dikerjakannya. Ia tidak hanya bergantung pada hasil, tetapi juga pada kesadaran bahwa pekerjaan tersebut memiliki nilai bagi kehidupan orang lain. Inilah kebebasan batin yang perlu dipelihara: tetap setia melakukan yang baik, sekalipun hasilnya tidak selalu sesuai dengan harapan.

Dua Puluh Lima Tahun: Bersyukur dan Terus Melangkah

Dalam refleksi atas perjalanan imamat RD. Donatus, terdapat tiga pesan penting. Pertama, 25 tahun adalah alasan untuk bersyukur. Syukur bukan terutama atas keberhasilan pribadi, melainkan atas penyertaan Allah yang memungkinkan perjalanan itu berlangsung.

Kedua, imamat bukanlah hasil kehebatan manusia. Kesadaran ini membebaskan seorang imam dari keinginan untuk terus membuktikan dirinya. Pelayanan bukan panggung untuk membesarkan nama pribadi, melainkan kesempatan menghadirkan kasih Allah bagi sesama.

Ketiga, 25 tahun bukanlah akhir perjalanan. Selama seseorang masih diberi kesempatan hidup dan melayani, panggilan untuk berbuat baik tetap terbuka. Pengalaman masa lalu menjadi sumber kebijaksanaan untuk menjalani tugas-tugas berikutnya dengan lebih matang.

Bagi civitas akademika STK St. Yakobus Merauke, ketiga pesan ini merupakan bahan refleksi bersama. Lembaga pendidikan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas, kerendahan hati, kepedulian, dan kesetiaan. Pendidikan yang bermartabat tumbuh ketika pengetahuan berjalan bersama karakter, kompetensi disertai tanggung jawab, dan pekerjaan dilandasi semangat pelayanan.

Nama yang Terlukis, Tanggung Jawab yang Dijalani

Perayaan 25 tahun imamat RD. Donatus Wea pada akhirnya bukanlah panggung untuk mengagungkan seorang manusia. Perayaan ini merupakan ungkapan syukur atas kasih Allah yang bekerja melalui perjalanan hidup seseorang. RD. Donatus menjadi saksi bahwa panggilan dapat dijalani bukan karena manusia selalu kuat, melainkan karena Allah senantiasa setia.

Kita pun memiliki panggilan masing-masing. Ada yang melayani melalui imamat, pendidikan, kepemimpinan, keluarga, maupun pekerjaan sehari-hari. Apa pun bentuknya, setiap panggilan mengandung tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa lama kita telah bekerja atau berapa banyak prestasi yang telah dicapai, melainkan sejauh mana kehadiran kita memberikan kehidupan bagi orang lain.

Dua puluh lima tahun imamat mengajarkan bahwa hidup yang bermakna bukan terutama tentang seberapa tinggi nama kita terukir dalam ingatan manusia, melainkan seberapa setia kita menjalani panggilan dalam kasih Allah.

Nama kita telah terlukis di telapak tangan-Nya. Karena itu, marilah kita terus bekerja, belajar, dan melayani dengan rendah hati. Sebab, tangan yang tidak pernah melupakan kita itulah yang senantiasa menguatkan langkah kita untuk melanjutkan perjalanan. (*)

Merauke, 7 November 2026

Agustinus Gereda

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.