Ketika Salah Menjadi Jalan untuk Belajar
Serial MENJADI GURU Bagian III: Memahami Proses Belajar dan Mengajar
Kesalahan merupakan bagian wajar dari proses belajar, bukan semata-mata tanda ketidakmampuan peserta didik. Cara guru menanggapi kesalahan menentukan apakah peserta didik merasa malu atau terdorong memperbaiki pemahamannya. Karena itu, guru perlu membangun lingkungan belajar yang aman, menghargai keberanian mencoba, dan menggunakan kekeliruan sebagai bahan refleksi. Bagi calon guru, kesediaan mengakui serta memperbaiki kesalahan menjadi bagian penting dari tanggung jawab pedagogis untuk membentuk peserta didik yang kritis, percaya diri, dan terus berkembang.
Suatu pagi, dalam perkuliahan di STK St. Yakobus Merauke, seorang dosen meminta mahasiswa calon guru menjelaskan cara mengajarkan pecahan kepada anak sekolah dasar. Seorang mahasiswa mengangkat tangan dan memberikan jawaban. Ia menjelaskan dengan penuh keyakinan, tetapi contoh yang digunakan justru memperlihatkan kekeliruan dalam memahami konsep pecahan.
Beberapa mahasiswa tersenyum. Ada yang berbisik kepada temannya. Mahasiswa yang menjawab tadi segera menghentikan penjelasannya dan menunduk. Ketika dosen kembali mengajukan pertanyaan, ia memilih diam.
Dosen itu kemudian meminta mahasiswa lain mencoba menjelaskan persoalan yang sama. Setelah beberapa jawaban muncul, mereka bersama-sama memeriksa letak kekeliruannya dan menemukan cara penjelasan yang lebih tepat.
Peristiwa itu sederhana. Namun, ada dua kemungkinan hasil pembelajaran di dalamnya. Mahasiswa dapat pulang dengan pemahaman yang lebih baik tentang pecahan, atau pulang dengan rasa malu karena jawabannya ditertawakan.
Perbedaannya bukan semata-mata terletak pada benar atau salahnya jawaban, melainkan pada bagaimana kelas memperlakukan kesalahan.
Mengapa Kesalahan Sering Memalukan?
Sejak awal pendidikan, peserta didik mengenal hubungan yang kuat antara jawaban benar, nilai baik, dan penghargaan. Sebaliknya, jawaban salah sering diikuti koreksi di depan kelas, nilai rendah, atau komentar yang membuat seseorang merasa kurang mampu.
Lama-kelamaan, sebagian peserta didik belajar menyembunyikan ketidaktahuannya. Mereka memilih diam daripada mengambil risiko. Mereka menunggu teman lain menjawab, menyalin jawaban yang dianggap aman, atau menghindari pertanyaan yang belum mereka pahami.
Akibatnya, kelas dapat terlihat tertib, tetapi tidak selalu memberi ruang bagi proses berpikir yang sesungguhnya.
Padahal, belajar tidak selalu berlangsung melalui jawaban yang benar sejak awal. Seseorang mungkin perlu mencoba, keliru, memeriksa kembali, lalu memperbaiki pemahamannya. Proses seperti itu merupakan bagian wajar dari kegiatan belajar.
Masalahnya muncul ketika kesalahan diperlakukan sebagai bukti ketidakmampuan seseorang, bukan sebagai petunjuk tentang apa yang belum dipahaminya.
Refleksi Pedagogis: Kesalahan Menyimpan Informasi
Dalam pendidikan, kesalahan dapat membantu guru memahami cara berpikir peserta didik. Jawaban yang keliru bukan hanya sesuatu yang harus dicoret atau diberi tanda merah. Di dalamnya mungkin terdapat pemahaman yang belum lengkap, konsep yang tertukar, atau penalaran yang belum tepat.
Buku How Learning Works: Seven Research-Based Principles for Smart Teaching karya Susan A. Ambrose, Michael W. Bridges, Michele DiPietro, Marsha C. Lovett, dan Marie K. Norman (2010, San Francisco: Jossey-Bass) membahas pentingnya pengetahuan awal peserta didik dalam proses belajar. Pengetahuan yang telah dimiliki seseorang dapat membantu pembelajaran, tetapi juga dapat menghambatnya apabila mengandung pemahaman yang keliru.
Karena itu, guru perlu mengetahui bukan hanya apakah jawaban peserta didik benar, melainkan juga bagaimana jawaban itu terbentuk.
Ketika seorang anak keliru menjawab soal matematika, misalnya, guru dapat langsung memberikan rumus yang benar. Namun, cara itu belum tentu menyelesaikan persoalan apabila anak masih menggunakan cara berpikir yang sama. Guru perlu menelusuri alasan di balik jawabannya, kemudian membantunya menemukan bagian yang perlu diperbaiki.
Tentu, menerima kesalahan bukan berarti menganggap semua jawaban benar atau membiarkan kekeliruan tanpa koreksi. Kebenaran tetap penting. Yang perlu diubah adalah cara mencapai kebenaran itu: melalui pemeriksaan, dialog, latihan, dan kesediaan memperbaiki pemahaman.
Praktik: Membuat Kelas Berani Mencoba
Guru dapat memulai dengan kebiasaan sederhana.
Pertama, koreksi jawaban tanpa merendahkan orangnya. Kalimat “Cara berpikirmu perlu kita periksa lagi” lebih membuka ruang belajar daripada sebutan yang membuat peserta didik merasa bodoh.
Kedua, tanyakan alasan di balik jawaban. Pertanyaan “Bagaimana kamu sampai pada jawaban itu?” membantu guru mengenali proses berpikir peserta didik sekaligus memberi kesempatan kepada mereka untuk memeriksa penalarannya sendiri.
Ketiga, gunakan kesalahan sebagai bahan diskusi. Guru dapat menyajikan contoh kekeliruan tanpa mempermalukan orang yang membuatnya, kemudian mengajak kelas menemukan letak masalah dan memperbaikinya.
Keempat, hargai keberanian mencoba dan kesediaan memperbaiki diri. Penghargaan tidak hanya diberikan kepada mereka yang langsung menjawab benar, tetapi juga kepada peserta didik yang mau belajar dari koreksi.
Kelima, berikan umpan balik yang jelas. Peserta didik perlu mengetahui bagian yang sudah tepat, bagian yang masih keliru, dan langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya.
Dalam pendidikan calon guru di STK St. Yakobus Merauke, kebiasaan ini perlu dialami langsung oleh mahasiswa. Mereka tidak cukup mempelajari teori tentang pembelajaran yang manusiawi; mereka juga perlu merasakan suasana belajar yang memberi ruang untuk bertanya, mencoba, keliru, dan bertumbuh.
Refleksi: Beranikah Calon Guru Mengakui Kesalahannya?
Calon guru perlu menyadari bahwa sikapnya terhadap kesalahan peserta didik sering berhubungan dengan sikapnya terhadap kesalahan sendiri.
Guru yang merasa harus selalu benar mungkin sulit menerima pertanyaan kritis. Guru yang takut kehilangan wibawa mungkin enggan mengakui bahwa penjelasannya kurang tepat. Sebaliknya, guru yang bersedia memeriksa kembali jawabannya sedang memperlihatkan bahwa belajar tidak berhenti ketika seseorang berdiri di depan kelas.
Mengakui kesalahan tidak menghilangkan wibawa guru. Justru, kejujuran dan tanggung jawab dalam memperbaiki kekeliruan dapat membangun kepercayaan.
Kelak, anak-anak yang dididik calon guru hari ini akan membawa pengalaman kelas itu ke dalam cara mereka memandang diri sendiri. Mereka dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa kesalahan adalah aib yang harus disembunyikan, atau memahami bahwa kekeliruan dapat diperiksa dan diperbaiki.
Pilihan itu ikut ditentukan oleh bagaimana guru menanggapi jawaban yang salah.
Sebab tugas guru bukan menghasilkan kelas yang tidak pernah salah. Tugasnya adalah membangun kelas tempat peserta didik berani mencoba, bersedia mengoreksi diri, dan tidak berhenti belajar ketika menemukan kekeliruan.
‘Kesalahan bukan tujuan belajar, tetapi dapat menjadi jalan menuju pemahaman.’ Yang menentukan bukan sekadar apakah peserta didik pernah salah, melainkan apakah ia memperoleh kesempatan untuk memahami kesalahannya dan tumbuh menjadi lebih baik.
Di situlah calon guru belajar bahwa mendidik bukan hanya membimbing peserta didik menemukan jawaban yang benar, tetapi juga menolong mereka berani menempuh proses untuk menemukannya.
Merauke, 21 Oktober 2026
Agustinus Gereda



