Ketika Guru Ditakuti, Apa yang Terjadi di Kelas?
Serial “MENJADI GURU” Bagian II: Memahami Peserta Didik
Kelas yang tenang tidak selalu menunjukkan bahwa peserta didik sedang belajar dengan baik. Ketakutan kepada guru dapat membuat anak memilih diam, enggan bertanya, takut salah, dan menyembunyikan kesulitan belajarnya. Refleksi ini mengajak calon guru membedakan kewibawaan dari ketakutan serta membangun relasi pendidikan yang menghadirkan rasa aman. Guru tetap dapat tegas tanpa merendahkan, menetapkan aturan tanpa mempermalukan, dan menggunakan kewenangan secara bertanggung jawab. Kelas yang sehat ialah ruang ketika peserta didik berani bertanya, mencoba, salah, dan belajar kembali.mengatakan bahwa ia belum mengerti?’
Suatu hari, dalam sebuah kegiatan praktik mengajar yang diceritakan seorang mahasiswa STK St. Yakobus Merauke, seorang guru bertanya kepada peserta didik, “Ada yang belum mengerti?”
Kelas tiba-tiba hening. Tidak ada tangan yang terangkat. Guru kembali bertanya, “Semua sudah mengerti?” Anak-anak mengangguk.
Beberapa menit kemudian, ketika mengerjakan tugas, ternyata banyak yang belum memahami materi. Ada anak yang saling bertanya dengan temannya. Ada yang hanya menyalin jawaban. Ada pula yang memilih diam karena takut dianggap tidak memperhatikan.
Mahasiswa calon guru yang mengamati kelas itu kemudian bertanya kepada salah seorang anak, “Mengapa tadi tidak bertanya kepada guru?” Jawabannya singkat: “Takut, Kak.”
Di situlah muncul pertanyaan yang lebih besar: ‘Mengapa seorang anak bisa takut kepada gurunya sampai tidak berani mengatakan bahwa ia belum mengerti?’
Ketika Diam Tidak Berarti Mengerti
Di kelas, suasana tenang sering dianggap sebagai tanda bahwa pembelajaran berjalan baik.
Anak-anak duduk diam. Tidak banyak berbicara. Tidak ada yang mengganggu. Guru dapat menjelaskan materi dengan lancar.
Tetapi kelas yang terlalu diam belum tentu kelas yang sedang belajar. Bisa jadi anak-anak sedang berpikir. Bisa juga mereka sedang bosan. Tetapi ada kemungkinan lain: mereka ‘takut berbicara’. Takut salah. Takut ditertawakan. Takut dimarahi. Takut pertanyaannya dianggap bodoh. Atau takut karena pengalaman sebelumnya membuat mereka belajar bahwa berbicara di hadapan guru memiliki risiko.
Di sinilah guru perlu membedakan antara ‘ketertiban’ dan ‘ketakutan’. Kelas yang tertib memberi ruang bagi peserta didik untuk belajar. Kelas yang dibangun terutama dengan rasa takut mungkin memang terlihat tenang, tetapi anak dapat kehilangan keberanian untuk bertanya, mencoba, dan menyampaikan pendapat.
Guru Memiliki Kekuasaan
Dalam hubungan pendidikan, guru memang memiliki posisi yang berbeda dari peserta didik. Guru memiliki pengetahuan, pengalaman, kewenangan mengatur kelas, dan dalam banyak situasi memiliki tanggung jawab memberikan penilaian. Peserta didik berada dalam posisi yang membutuhkan bimbingan.
Perbedaan posisi itu tidak perlu dihapus. Guru tetap membutuhkan kewibawaan agar pembelajaran berjalan. Namun, ‘wibawa’ berbeda dengan ‘menakutkan’. Wibawa membuat peserta didik menghormati guru. Ketakutan membuat peserta didik berusaha menghindari kesalahan di hadapan guru.
Guru yang berwibawa dapat berkata tegas ketika diperlukan, tetapi ketegasan itu tidak harus disertai penghinaan. Guru dapat menetapkan aturan tanpa mempermalukan anak. Guru dapat menegur tanpa membuat anak merasa dirinya tidak berharga.
Relasi yang sehat bukan berarti guru kehilangan otoritas. Justru otoritas guru menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk menciptakan kondisi agar peserta didik dapat belajar dengan aman.
Mengapa Rasa Aman Penting?
Anak membutuhkan rasa aman untuk belajar. Ia perlu merasa bahwa bertanya bukan kesalahan. Mencoba lalu keliru bukan sesuatu yang memalukan. Berbeda pendapat tidak otomatis berarti melawan guru.
Bayangkan seorang anak sedang belajar membaca. Ia salah mengucapkan sebuah kata. Jika teman-temannya tertawa dan guru ikut mempermalukannya, anak itu mungkin akan mengingat pengalaman tersebut lebih lama daripada pelajaran yang sedang dipelajari. Pada kesempatan berikutnya, ia mungkin memilih diam.
Sebaliknya, jika guru mengatakan, “Tidak apa-apa, coba sekali lagi,” anak memperoleh pesan yang berbeda: kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
Hal sederhana seperti ini sangat penting. Sebab pendidikan tidak hanya membutuhkan anak yang mengetahui jawaban, tetapi juga anak yang ‘berani mencari jawaban’.
Guru Tidak Harus Selalu Ditakuti agar Dihormati
Kadang-kadang masih ada anggapan bahwa guru yang terlalu ramah akan kehilangan wibawa. Anggapan itu perlu direnungkan kembali.
Ramah bukan berarti tidak tegas. Mendengarkan bukan berarti membiarkan semua perilaku. Memberi kesempatan bukan berarti tidak memiliki aturan.
Guru tetap dapat mengatakan “tidak” ketika memang diperlukan. Guru tetap dapat memberikan konsekuensi terhadap perilaku yang mengganggu proses belajar. Tetapi cara menyampaikan ketegasan menentukan pengalaman yang diterima peserta didik.
Ada perbedaan besar antara: “Kamu memang tidak pernah bisa!” dan “Cara ini belum tepat. Mari kita coba lagi.”
Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa ada kesalahan. Tetapi pesan yang diterima anak sangat berbeda. Kalimat pertama menyerang pribadi. Kalimat kedua mengarahkan perilaku. Guru perlu belajar membedakan keduanya.
Apa yang Dapat Dilakukan Guru?
Pertama, bangun kebiasaan mendengarkan. Ketika anak berbicara, jangan terlalu cepat memotong atau menyimpulkan.
Kedua, jadikan kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran. Guru dapat menunjukkan bahwa kesalahan tidak otomatis membuat seseorang menjadi bodoh.
Ketiga, hindari mempermalukan peserta didik di depan teman-temannya. Teguran tetap dapat diberikan tanpa merendahkan martabat anak.
Keempat, berikan kesempatan bertanya dengan berbagai cara. Tidak semua anak berani mengangkat tangan di depan kelas. Guru dapat menggunakan diskusi kelompok, pertanyaan tertulis, atau percakapan pribadi.
Kelima, jelaskan aturan dan alasan di baliknya. Anak lebih mudah memahami disiplin ketika mengetahui bahwa aturan dibuat untuk menjaga proses belajar bersama.
Keenam, perhatikan anak yang terlalu diam. Diam bukan selalu tanda tidak ada masalah. Kadang-kadang anak yang paling tenang justru membutuhkan perhatian yang lebih manusiawi.
Calon Guru Perlu Belajar Menggunakan Kekuasaan
Bagi mahasiswa calon guru, persoalan ini penting dipikirkan sejak bangku kuliah. Suatu hari mereka akan memiliki otoritas di dalam kelas. Anak-anak akan memandang mereka sebagai guru. Apa yang mereka katakan memiliki bobot yang berbeda dibandingkan perkataan teman sebaya.
Karena itu, calon guru perlu belajar bukan hanya ‘bagaimana menggunakan kewenangan’, tetapi juga ‘bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab’.
Jangan sampai kewibawaan dibangun dari rasa takut. Jangan sampai disiplin berubah menjadi penghinaan. Jangan sampai ketegasan berubah menjadi kemarahan. Dan jangan sampai kelas yang tenang dianggap berhasil hanya karena tidak ada anak yang berani berbicara.
Calon guru perlu belajar menciptakan ruang ketika peserta didik dapat mengatakan: “Bu, saya belum mengerti.” “Pak, saya mempunyai pendapat yang berbeda.” “Maaf, saya tadi salah.” “Mengapa jawabannya seperti itu?”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Tetapi ketika anak berani mengucapkannya, sesungguhnya ada sesuatu yang penting sedang terjadi: ‘ia merasa cukup aman untuk belajar.’
Dari Takut Menjadi Percaya
Tujuan pendidikan bukan membuat peserta didik takut melakukan kesalahan, melainkan membantu mereka belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
Guru memang perlu dihormati. Tetapi penghormatan yang sehat tidak harus lahir dari ketakutan. Anak dapat menghormati guru karena guru adil. Karena guru konsisten. Karena guru mampu mendengarkan. Karena guru tegas tanpa merendahkan. Karena guru memperlakukan peserta didik sebagai manusia.
Bagi calon guru di Papua Selatan, tantangan ini menjadi bagian penting dari perjalanan profesional. Kelak mereka akan berhadapan dengan anak-anak dari latar belakang yang beragam. Ada yang percaya diri, ada yang pemalu. Ada yang terbiasa berbicara, ada yang lebih banyak mengamati. Ada yang mudah beradaptasi, ada yang membutuhkan waktu. Guru perlu menciptakan ruang agar semuanya memiliki kesempatan untuk berkembang.
Pada akhirnya, mungkin ukuran sederhana sebuah kelas yang sehat bukanlah seberapa diam peserta didiknya, melainkan ‘seberapa berani mereka belajar’.
Berani bertanya. Berani mencoba. Berani salah. Berani memperbaiki. Dan berani mengatakan kepada guru bahwa mereka belum memahami sesuatu.
Guru tidak perlu kehilangan kewibawaannya untuk menciptakan kelas seperti itu. Yang perlu diubah adalah cara menggunakan kewibawaan tersebut. Sebab guru yang baik bukan guru yang membuat anak takut kepadanya. Guru yang baik adalah guru yang membuat anak merasa ‘aman untuk belajar, cukup dihargai untuk berbicara, dan cukup percaya diri untuk terus bertumbuh’.
Dan mungkin, bagi calon guru, pertanyaan yang perlu dibawa ke ruang kelas kelak bukan hanya, “Apakah anak-anak menaati saya?” melainkan: “Apakah anak-anak merasa aman untuk belajar bersama saya?” Pertanyaan itu dapat menjadi cermin sederhana tentang bagaimana kita memahami makna menjadi guru. (*)
Merauke, 28 September 2026
Agustinus Gereda



