Ketika Mengajar Menjadi Rutinitas, di Mana Maknanya?

Opini & Refleksi

Ketika Mengajar Menjadi Rutinitas, di Mana Maknanya?

Serial “Menjadi Guru” Bagian I Memahami Makna Menjadi Pendidik

Mengajar dapat berubah menjadi rutinitas ketika jadwal, materi, administrasi, dan tuntutan pekerjaan lebih dominan daripada kesadaran akan makna pendidikan. Refleksi ini mengajak guru dan calon guru melihat kejenuhan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai tanda untuk kembali menemukan alasan mendidik. Melalui perhatian terhadap peserta didik, refleksi setelah pembelajaran, dan perubahan kecil dalam praktik mengajar, rutinitas dapat dihidupkan kembali sebagai ruang perjumpaan yang membantu manusia bertumbuh. Dengan demikian, guru tetap hadir secara utuh dalam tugas pendidikannya sehari-hari.

Ada pagi-pagi tertentu ketika ruang kelas terasa sama seperti kemarin. Meja dan kursi masih pada tempatnya. Papan tulis masih berdiri di depan kelas. Mahasiswa datang, membuka laptop atau buku, lalu menunggu dosen memulai perkuliahan.

Di sebuah ruang kuliah di STK St. Yakobus Merauke, seorang dosen masuk seperti biasa. Ia membuka bahan ajar, menjelaskan pokok bahasan, memberi kesempatan bertanya, lalu menutup perkuliahan. Semua berjalan lancar. Tidak ada masalah. Tidak ada mahasiswa yang ribut. Materi tersampaikan.

Namun, setelah mahasiswa meninggalkan ruangan, dosen itu masih duduk beberapa saat. Ia memandang papan tulis yang belum dihapus. Dalam hati muncul pertanyaan sederhana: “Tadi saya mengajar, tetapi apakah saya sungguh mendidik?”

Pertanyaan itu mungkin tidak selalu muncul. Tetapi suatu ketika, hampir setiap guru atau dosen dapat mengalaminya.

Mengapa Mengajar Bisa Menjadi Rutinitas?

Mengajar memang memiliki pola yang berulang. Ada jadwal, materi, presensi, tugas, penilaian, laporan, dan berbagai administrasi. Semua itu diperlukan agar pendidikan berjalan teratur.

Masalahnya bukan pada rutinitas itu sendiri. Rutinitas menjadi persoalan ketika guru mulai menjalankan semuanya hanya karena harus dilakukan.

Datang ke kelas karena jadwal. Mengajar karena ada materi. Memberi tugas karena ada kewajiban. Menilai karena kalender akademik menuntutnya. Mengisi administrasi karena sistem meminta. Setelah semuanya selesai, pekerjaan dianggap selesai pula.

Pada titik tertentu, guru dapat mengalami kelelahan yang bukan hanya fisik, tetapi juga batin. Ia masih hadir di kelas, tetapi mungkin tidak lagi hadir sepenuhnya sebagai pendidik.

Di sinilah pertanyaan penting muncul: Apakah kejenuhan mengajar berarti guru tidak lagi mencintai pekerjaannya?

Belum tentu.

Kejenuhan bisa muncul justru karena pekerjaan yang dahulu bermakna telah terlalu lama dilakukan dalam pola yang sama. Sesuatu yang pada awalnya merupakan pilihan dan panggilan perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Ketika Makna Tertutup oleh Rutinitas

Dalam perspektif pedagogis, mengajar bukan sekadar aktivitas menyampaikan materi. Ada manusia yang hadir di balik setiap nama dalam daftar presensi.

Mahasiswa bukan hanya peserta kuliah yang harus memenuhi kehadiran. Mereka adalah pribadi yang sedang membentuk diri, mencari arah, mengalami kesulitan, membangun harapan, dan mempersiapkan masa depan.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari berapa banyak materi yang telah disampaikan. Pertanyaan yang lebih dalam ialah: apa yang terjadi pada manusia setelah mengalami proses pendidikan bersama kita?

Seorang calon guru mungkin dapat menguasai teori pembelajaran, tetapi belum tentu mampu memahami anak yang duduk diam karena kurang percaya diri. Ia mungkin menguasai materi bahasa Indonesia, tetapi belum tentu menyadari bahwa seorang siswa yang lambat membaca membutuhkan kesabaran, bukan ejekan. Ia mungkin mampu menjelaskan metode mengajar, tetapi belum tentu mampu menghadirkan dirinya sebagai orang dewasa yang aman untuk dipercaya.

Di sinilah makna mengajar sebenarnya berada: bukan hanya pada materi yang berpindah dari kepala guru kepada kepala peserta didik, melainkan pada manusia yang bertumbuh melalui perjumpaan.

Guru tidak setiap hari harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang makna pendidikan justru hadir dalam hal-hal sederhana: mendengarkan mahasiswa yang kesulitan, mengulang penjelasan tanpa marah, memberi kesempatan kepada anak yang pemalu untuk berbicara, atau mengatakan, “Saya belum tahu. Mari kita cari jawabannya bersama.”

Dengan demikian, mengajar bukan pekerjaan yang selalu membutuhkan pengalaman spektakuler. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa setiap perjumpaan di kelas mempunyai arti.

Apa yang Dapat Dilakukan Guru?

Menemukan kembali makna mengajar tidak selalu berarti meninggalkan rutinitas. Guru tetap harus mengisi presensi, menyiapkan bahan, memberikan tugas, melakukan penilaian, dan menyelesaikan administrasi.

Yang mungkin perlu diubah adalah cara memandang rutinitas tersebut.

Administrasi jangan sampai dilihat hanya sebagai beban, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab profesional. Rencana pembelajaran bukan sekadar dokumen yang harus dikumpulkan, tetapi kesempatan untuk bertanya: apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan peserta didik?

Guru juga dapat menyediakan waktu singkat untuk berefleksi setelah mengajar. Tidak perlu panjang. Cukup bertanya kepada diri sendiri: Apa yang terjadi di kelas hari ini? Siapa yang saya perhatikan? Siapa yang mungkin terlewat? Apa yang berhasil? Apa yang perlu saya perbaiki?

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat membuat kelas yang sama terasa berbeda.

Sesekali, guru juga perlu mengubah cara mengajar. Menghadirkan contoh dari kehidupan sehari-hari, mengajak mahasiswa berdiskusi, membawa persoalan lokal Papua Selatan ke dalam pembelajaran, atau memberi ruang kepada peserta didik untuk menceritakan pengalaman mereka. Perubahan kecil dapat menghidupkan kembali hubungan antara materi dan kehidupan.

Belajar Menjadi Guru yang Tidak Kehilangan Makna

Bagi calon guru, pengalaman ini penting untuk direnungkan sejak awal. Menjadi guru bukan berarti memasuki pekerjaan yang setiap harinya harus terasa menyenangkan. Ada hari ketika guru lelah. Ada saat ketika kelas tidak berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika pekerjaan administratif terasa menumpuk.

Yang perlu dijaga bukan agar guru tidak pernah jenuh, melainkan agar kejenuhan tidak mengambil seluruh makna dari pekerjaannya.

Calon guru perlu belajar bahwa profesi keguruan memiliki sisi rutin. Tetapi di balik rutinitas itu selalu ada manusia yang sedang bertumbuh.

Mungkin suatu hari nanti kita akan mengajar materi yang sama untuk kesekian kalinya. Kita akan mengisi formulir yang sama, membuat laporan yang sama, dan menjalani jadwal yang hampir sama. Namun, peserta didik yang kita hadapi tidak pernah benar-benar sama.

Karena itu, guru perlu terus bertanya: “Apa yang sedang terjadi pada manusia yang ada di hadapan saya?”

Pertanyaan itulah yang dapat menjaga mengajar tetap hidup.

Sebab, pada akhirnya, guru bukan hanya orang yang datang ke kelas untuk menyelesaikan pekerjaan. Guru adalah pribadi yang bersedia hadir dalam perjalanan pertumbuhan manusia lain.

Dan mungkin, ketika makna itu kembali ditemukan, rutinitas tidak lagi terasa sebagai pengulangan yang kosong. Ia menjadi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi penting: membantu seorang manusia bertumbuh. (*)

Merauke, 16 September 2026

Agustinus Gereda

Tinggalkan Komentar

Email tidak ditampilkan. Komentar akan tampil setelah disetujui moderator. Tautan tidak diizinkan.