Sebelum Mengajar Anak, Belajarlah Menjadi Guru

Opini

Sebelum Mengajar Anak, Belajarlah Menjadi Guru

Menjadi guru tidak dimulai ketika seseorang berdiri di depan kelas, tetapi ketika ia bersedia mengenal dan membentuk dirinya sendiri. Guru adalah pribadi pembelajar yang terus mengembangkan pengetahuan, karakter, keterampilan, dan kematangan dalam menghadapi peserta didik. Refleksi ini mengajak calon guru menyadari kekuatan, kelemahan, emosi, serta kebiasaan yang memengaruhi praktik pendidikan. Dengan mengenal diri, menerima kritik, merefleksikan pengalaman, dan terus belajar, calon guru dipersiapkan menjadi pendidik yang rendah hati, bertanggung jawab, dan bermartabat secara utuh.

Ada satu kebiasaan kecil dalam perkuliahan yang kadang luput dari perhatian. Ketika dosen bertanya, “Siapa yang ingin menjadi guru yang baik?”, hampir semua tangan terangkat. Namun, ketika pertanyaannya dilanjutkan, “Apa yang harus Anda ubah dalam diri agar menjadi guru yang baik?”, suasana biasanya menjadi lebih sunyi.

Pertanyaan kedua memang lebih sulit.

Menjadi guru ternyata bukan hanya persoalan mengetahui ‘apa yang harus diajarkan’, tetapi juga menyangkut ‘siapa yang akan mengajarkannya’. Seorang calon guru mungkin telah mempelajari berbagai teori pendidikan, strategi pembelajaran, metode mengajar, dan cara melakukan asesmen. Namun, semua pengetahuan itu pada akhirnya akan bertemu dengan pribadi guru itu sendiri.

Di situlah perjalanan menjadi guru sesungguhnya dimulai.

Ketika Guru Tidak Mengenal Dirinya

Bayangkan seorang guru yang meminta muridnya disiplin, tetapi dirinya sendiri sering datang terlambat. Ia meminta anak-anak berbicara dengan sopan, tetapi mudah membentak ketika menghadapi kesalahan. Ia mengajarkan pentingnya kejujuran, tetapi mencari alasan ketika melakukan kekeliruan.

Anak-anak mungkin tidak mengatakan apa-apa. Tetapi mereka melihat.

Di ruang kelas, guru bukan hanya menyampaikan pelajaran melalui kata-kata. Guru juga “mengajar” melalui cara berbicara, cara mendengarkan, cara memperlakukan orang lain, cara menghadapi konflik, bahkan cara mengakui kesalahan.

Karena itu, ada sebuah pelajaran pedagogis yang sederhana: ‘sebelum mendidik orang lain, seorang guru perlu belajar mendidik dirinya sendiri.’

Bukan berarti guru harus menjadi manusia sempurna. Justru sebaliknya. Guru tetap manusia yang dapat lelah, keliru, marah, kecewa, bahkan kehilangan kesabaran. Yang penting adalah kesediaannya untuk menyadari kelemahan, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki diri.

Guru adalah Pembelajar

Salah satu jebakan dalam profesi keguruan adalah merasa bahwa setelah lulus kuliah, proses belajar telah selesai.

Padahal, ijazah hanya menandai berakhirnya satu tahap pendidikan, bukan berakhirnya proses belajar.

Dunia anak berubah. Teknologi berubah. Pengetahuan berkembang. Cara berkomunikasi berubah. Bahkan tantangan yang dihadapi peserta didik hari ini tidak selalu sama dengan tantangan yang dihadapi generasi sebelumnya.

Calon guru di STK St. Yakobus Merauke, misalnya, kelak akan berhadapan dengan peserta didik dalam konteks Papua Selatan yang memiliki kekayaan budaya, lingkungan sosial, pengalaman hidup, dan tantangan pendidikan yang khas. Guru yang tidak mau belajar akan mudah melihat perbedaan sebagai masalah. Sebaliknya, guru yang terus belajar akan melihatnya sebagai kesempatan untuk memahami peserta didik secara lebih utuh.

Karena itu, menjadi guru berarti bersedia mengatakan: “Saya belum tahu semuanya.”

Kalimat itu bukan tanda kelemahan. Justru di sanalah kerendahan hati intelektual dimulai.

Mengenal Diri sebagai Bagian dari Pedagogi

Dalam pendidikan, kita sering berbicara tentang peserta didik: bagaimana mereka belajar, apa kebutuhan mereka, bagaimana karakter mereka, dan bagaimana guru dapat membantu mereka berkembang.

Namun, ada satu unsur yang tidak boleh dilupakan: ‘guru itu sendiri’.

Cara guru memahami dirinya akan memengaruhi cara ia memahami peserta didiknya.

Guru yang mudah tersinggung mungkin akan melihat pertanyaan murid sebagai bentuk perlawanan. Guru yang takut kehilangan wibawa mungkin sulit mengakui kesalahan. Guru yang terlalu berorientasi pada nilai mungkin mengukur keberhasilan anak hanya dari angka.

Sebaliknya, guru yang mengenal dirinya akan lebih mampu mengelola emosi, menerima kritik, menyadari keterbatasan, dan membuka ruang bagi peserta didik untuk berkembang.

Mengenal diri bukan berarti sibuk memikirkan diri sendiri. Mengenal diri berarti memahami ‘kekuatan, kelemahan, kebiasaan, emosi, nilai, dan prasangka’ yang kita bawa ketika memasuki ruang kelas.

Dengan begitu, refleksi diri menjadi bagian penting dari perjalanan pedagogis.

Apa yang Dapat Dilakukan Calon Guru?

Tidak perlu memulainya dengan sesuatu yang rumit.

Pertama, ‘biasakan melakukan refleksi setelah mengajar atau mengikuti praktik pembelajaran’. Tanyakan: Apa yang berjalan baik? Apa yang tidak berjalan baik? Mengapa? Apa yang akan saya lakukan secara berbeda?

Kedua, ‘belajarlah menerima kritik’. Tidak semua kritik benar, tetapi hampir setiap kritik dapat menjadi bahan untuk bercermin.

Ketiga, ‘perhatikan cara berbicara dan bereaksi’. Bagaimana kita merespons orang yang berbeda pendapat? Bagaimana kita menghadapi kesalahan? Bagaimana kita memperlakukan orang yang kemampuannya berada di bawah kita?

Keempat, ‘terus membaca dan belajar. Guru yang baik tidak hanya membaca buku tentang pendidikan. Ia juga membaca kehidupan, lingkungan, budaya, perkembangan masyarakat, dan dunia yang sedang dihadapi peserta didiknya.

Kelima, ‘berani mengakui kesalahan’. Ada kalanya guru perlu mengatakan kepada murid, “Tadi saya keliru.” Kalimat sederhana itu tidak mengurangi kewibawaan guru. Sebaliknya, anak belajar bahwa menjadi manusia berarti juga berani bertanggung jawab atas kesalahan.

Guru yang Bertumbuh

Mungkin inilah salah satu hal yang perlu dipahami calon guru sejak berada di bangku kuliah: ‘guru bukan produk yang selesai, melainkan pribadi yang terus bertumbuh.’

Karena itu, pendidikan calon guru tidak cukup hanya menghasilkan orang yang mampu membuat RPP atau modul ajar, memilih metode, menggunakan media pembelajaran, dan melakukan asesmen. Semua itu penting. Tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar: membentuk pribadi yang memiliki kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Seorang guru boleh saja belum menguasai semua teknologi. Ia boleh belum sempurna dalam berbicara di depan kelas. Ia bahkan boleh melakukan kesalahan dalam pembelajaran. Yang berbahaya adalah ketika ia berhenti belajar dan merasa dirinya sudah selesai.

Di sinilah calon guru perlu memandang pendidikan bukan hanya sebagai proses ‘mempersiapkan diri untuk mengajar’, tetapi juga sebagai proses ‘mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang layak mendidik manusia lain’.

Sebelum Berdiri di Depan Kelas

Pada akhirnya, sebelum seorang calon guru bertanya, “Metode apa yang akan saya gunakan?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih awal:

“Siapakah saya ketika berdiri di depan anak-anak?”

Apakah saya seorang yang mau mendengarkan? Apakah saya mampu mengakui kesalahan? Apakah saya mau terus belajar? Apakah saya mampu mengendalikan diri? Apakah saya memperlakukan peserta didik dengan hormat? Apakah nilai-nilai yang saya ajarkan juga tampak dalam hidup saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban sekali jadi.

Sebab menjadi guru adalah perjalanan panjang untuk terus belajar mengenal diri, mengolah diri, dan memperbaiki diri.

‘Sebelum mengajar anak membaca buku, guru perlu belajar membaca dirinya sendiri. Sebelum mengajak anak bertumbuh, guru perlu bersedia bertumbuh. Dan sebelum membentuk manusia lain, guru perlu terus membentuk dirinya sendiri.’

Dari sinilah seorang calon guru mulai bergerak dari sekadar ‘menguasai pelajaran’ menuju ‘menjadi pribadi pendidik’. Dan perjalanan menuju guru yang bermartabat ternyata dimulai dari tempat yang sangat dekat: ‘diri sendiri’.

Merauke, 11 September 2026

Agustinus Gereda