Lejong: Warisan Kearifan Lokal dan Tradisi Kebersamaan
Tradisi lejong masyarakat Manggarai merupakan praktik saling mengunjungi yang menekankan pentingnya perjumpaan fisik, sapaan, dan kebersamaan di tengah relasi sosial. Di era digital, tradisi ini menawarkan kearifan tentang arti kehadiran nyata dan persaudaraan antarmanusia. Selain menjadi warisan budaya lokal, nilai lejong turut memperkaya refleksi iman Kristiani mengenai pentingnya solidaritas dan perhatian kepada sesama.
Dalam kehidupan masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur, lejong merupakan tradisi saling mengunjungi yang sederhana, tetapi menyimpan makna sosial dan kemanusiaan yang mendalam karena melalui kebiasaan datang, menyapa, duduk bersama, berbincang, dan mendengarkan, masyarakat membangun serta merawat hubungan dengan sesama. Pada masa lalu, orang dapat datang ke rumah tetangga, kerabat, atau warga kampung tanpa undangan dan tanpa keperluan khusus karena kehadiran itu sendiri sudah menjadi alasan untuk bertemu. Dalam tradisi ini, rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang perjumpaan, sementara tamu tidak dipandang sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian dari kehidupan bersama. Di tengah perubahan zaman dan berkembangnya komunikasi digital, lejong menjadi menarik untuk dilihat kembali karena memperlihatkan sebuah kearifan sederhana bahwa manusia tidak hanya membutuhkan komunikasi, tetapi juga kehadiran nyata, perjumpaan, dan persaudaraan.
Lejong sebagai Tradisi Perjumpaan
Secara sederhana, lejong berarti saling mengunjungi, tetapi praktiknya tidak berhenti pada kegiatan bertamu karena di dalamnya terdapat sapaan, kebersamaan, dan percakapan yang membangun relasi antara tamu dan tuan rumah. Dalam tradisi ini dikenal beberapa unsur penting, seperti reis atau sapaan, raes atau menemani dan duduk bersama, serta raos atau percakapan, yang secara bersama-sama menunjukkan bahwa lejong merupakan ruang untuk hadir dan berbagi kehidupan dengan sesama.
Dalam kajian Hubertus Herianto (2021), budaya lejong dibaca melalui gagasan framework aku dari filsuf Indonesia, Armada Riyanto, yang melihat manusia sebagai makhluk relasional karena keberadaan seseorang tidak dapat dilepaskan dari keberadaan orang lain. Dalam perjumpaan, seseorang tidak hanya bertemu secara fisik, tetapi juga belajar menyapa, mendengarkan, memahami, menghargai, dan menerima sesamanya sebagai pribadi yang memiliki kehidupan dan pengalaman sendiri.
Cara pandang tersebut tampak dalam penerimaan masyarakat Manggarai terhadap orang yang datang berkunjung, sebagaimana tercermin dalam ungkapan ite dan toe ata bana yang menggambarkan sesama bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai bagian dari kehidupan bersama. Karena itu, kedatangan seseorang ke rumah tidak semata-mata dipahami sebagai kunjungan, melainkan sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan dan menjaga rasa kebersamaan.
Dalam konteks ini, lejong dapat dipahami sebagai salah satu bentuk kearifan sosial masyarakat Manggarai yang menempatkan perjumpaan sebagai bagian penting dari kehidupan bersama. Kesederhanaan untuk datang, menyapa, duduk, dan berbicara memperlihatkan bahwa relasi antarmanusia dapat tumbuh dari tindakan yang sederhana, tetapi dilakukan dengan kehadiran yang sungguh-sungguh.
Kearifan Leluhur tentang Kebersamaan
Lejong memperlihatkan cara masyarakat Manggarai membangun kebersamaan melalui perjumpaan-perjumpaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui kegiatan bersama yang besar. Seseorang yang datang berkunjung membawa perhatian, sementara tuan rumah yang menerima kedatangan menyediakan ruang bagi terjadinya hubungan, sehingga sapaan, duduk bersama, dan percakapan menjadi bagian dari cara masyarakat merawat kehidupan bersama.
Melalui perjumpaan tersebut, seseorang dapat mengetahui keadaan tetangga, mengenal kehidupan kerabat, atau merasakan ketika ada anggota masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan. Dalam pengertian ini, lejong menjadi semacam pendidikan sosial yang berlangsung secara alami karena anak-anak belajar menyapa orang yang lebih tua, menerima tamu, berbicara dengan sopan, mendengarkan cerita, dan menghargai kehadiran orang lain melalui pengalaman sehari-hari.
Kearifan tersebut menunjukkan bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan acara besar atau pertemuan resmi karena hubungan antarmanusia dapat tumbuh dari tindakan sederhana seperti berjalan menuju rumah orang lain, mengetuk pintu, menyapa, lalu duduk bersama. Dari ruang yang sederhana itu, cerita kehidupan dibagikan, pengalaman dipertukarkan, dan hubungan antarsesama terus dirawat.
Karena itu, lejong dapat dilihat sebagai salah satu warisan leluhur yang memperlihatkan cara masyarakat Manggarai memahami kehidupan bersama, yakni bahwa manusia tidak hidup sendirian dan bahwa perhatian kepada sesama dapat tumbuh melalui kehadiran yang sederhana. Nilai tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang tidak hanya tersimpan dalam ingatan tentang masa lalu, tetapi juga dapat ditemukan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Lejong di Tengah Perubahan Zaman
Perubahan zaman telah mengubah cara manusia berhubungan dengan sesamanya, terutama sejak hadirnya telepon genggam, media sosial, pesan instan, dan berbagai platform digital yang memungkinkan komunikasi berlangsung cepat tanpa harus bertemu secara langsung. Kabar keluarga, kerabat, dan teman yang berada jauh dapat diterima dalam hitungan detik melalui pesan atau panggilan video, sehingga jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang utama dalam berkomunikasi.
Namun, komunikasi melalui layar menghadirkan pengalaman yang berbeda dari perjumpaan secara langsung karena duduk bersama memungkinkan seseorang melihat ekspresi wajah, mendengar intonasi suara, merasakan suasana, dan mengalami keheningan dalam ruang yang sama. Dalam perjumpaan langsung, percakapan juga dapat berkembang secara spontan, sehingga hubungan tidak hanya dibangun melalui pertukaran informasi, tetapi melalui pengalaman hadir bersama.
Dalam konteks inilah lejong menjadi menarik untuk dibicarakan kembali karena perubahan teknologi bukan hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara manusia mengalami kehadiran orang lain. Lejong tidak harus dipertahankan dalam bentuk yang sama seperti masa lalu karena kehidupan masyarakat telah berubah, tetapi nilai yang terkandung di dalamnya, seperti menyapa, mengunjungi, menemani, mendengarkan, dan menyediakan waktu bagi sesama, tetap memiliki ruang dalam kehidupan masa kini.
Dengan demikian, teknologi dan tradisi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan karena teknologi dapat menjadi sarana untuk menjaga hubungan ketika perjumpaan langsung belum memungkinkan, sementara lejong mengingatkan bahwa komunikasi juga memiliki dimensi kehadiran yang tidak selalu dapat digantikan oleh layar. Dalam bentuk yang mungkin berbeda, semangat lejong tetap dapat hidup sebagai kebiasaan untuk hadir dan merawat hubungan dengan sesama.
Lejong dalam Terang Iman Kristiani
Lejong bukan tradisi yang lahir dari iman Kristiani, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi ruang dialog dengan pengalaman iman umat Katolik, terutama dalam hal perjumpaan, penerimaan, persaudaraan, dan perhatian kepada sesama. Dalam Injil, perjumpaan menjadi bagian penting dari cara Yesus hadir di tengah kehidupan manusia karena Ia datang mendekati orang sakit, orang miskin, orang yang tersisihkan, keluarga yang mengalami persoalan, dan mereka yang berada di luar lingkaran sosial tertentu.
Perjumpaan Yesus tidak berhenti pada kehadiran fisik, tetapi berlangsung melalui sapaan, percakapan, perhatian, penerimaan, dan keberpihakan kepada manusia yang dijumpai. Dalam terang ini, lejong dapat dibaca sebagai pengalaman budaya yang memiliki resonansi dengan semangat persaudaraan Kristiani karena kebiasaan datang, duduk bersama, mendengarkan, dan menemani menunjukkan bahwa relasi antarmanusia dibangun bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui kehadiran.
Kehidupan Gereja pun berlangsung dalam ruang perjumpaan, misalnya melalui kunjungan kepada orang sakit, keluarga yang berduka, orang lanjut usia, keluarga yang mengalami kesulitan, atau umat yang hidup jauh dari pusat paroki. Dalam konteks tersebut, lejong membuka ruang refleksi tentang bagaimana umat mengalami kehadiran satu sama lain di tengah kehidupan digital yang semakin mengandalkan komunikasi melalui layar.
Karena itu, lejong dapat menjadi salah satu ruang dialog antara kebudayaan Manggarai dan iman Kristiani tentang manusia sebagai pribadi yang hidup dalam relasi dengan sesamanya. Tradisi ini tidak perlu diberi label sebagai tradisi Katolik, tetapi nilai perjumpaan yang terkandung di dalamnya dapat memperkaya refleksi Gereja tentang persaudaraan, kehadiran, dan kehidupan komunitas.
Merawat Lejong sebagai Warisan Budaya
Tradisi akan tetap hidup bukan hanya karena ditulis atau didokumentasikan, tetapi karena nilai yang terkandung di dalamnya masih hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks lejong, keluarga menjadi ruang penting karena kebiasaan menyapa, menerima tamu, mengunjungi kerabat, dan duduk bersama banyak dipelajari melalui pengalaman langsung, termasuk ketika anak-anak mengikuti orang tua mengunjungi keluarga atau menerima tamu di rumah.
Sekolah dan komunitas juga dapat memperkenalkan lejong sebagai bagian dari kekayaan budaya Manggarai dengan menempatkannya sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar pengetahuan tentang masa lalu. Anak-anak dan generasi muda dapat mengenal maknanya melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka, sehingga lejong tidak berhenti sebagai cerita tentang tradisi leluhur, tetapi tetap memiliki hubungan dengan cara mereka membangun relasi pada masa kini.
Di tengah perkembangan teknologi digital, lejong juga dapat menemukan bentuk baru sesuai dengan perubahan kehidupan masyarakat. Kunjungan langsung mungkin tidak selalu dapat dilakukan karena jarak, pekerjaan, atau keadaan tertentu, sementara teknologi dapat membantu menjaga hubungan ketika perjumpaan fisik belum memungkinkan. Dalam situasi seperti ini, teknologi dan tradisi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan karena teknologi dapat menjadi sarana komunikasi, sedangkan lejong tetap menghadirkan pengalaman kehadiran secara langsung.
Dan, merawat lejong berarti menjaga sebuah cara pandang tentang manusia sebagai pribadi yang hidup bersama orang lain. Di dalamnya terdapat kebiasaan untuk datang, menyapa, mendengarkan, menemani, dan berbagi kehidupan, sehingga lejong tetap menjadi bagian dari identitas budaya Manggarai sekaligus sumber refleksi tentang pentingnya relasi manusia di tengah perubahan zaman.
Akhirnya, lejong lahir dari kesederhanaan kehidupan masyarakat Manggarai, tetapi di dalamnya tersimpan cara pandang tentang pentingnya perjumpaan, kehadiran, dan kebersamaan; bentuknya dapat berubah mengikuti zaman, termasuk di tengah kehidupan digital, sementara nilai untuk menyapa, mengunjungi, mendengarkan, menemani, dan merawat relasi tetap menemukan tempatnya, baik sebagai warisan budaya Manggarai maupun sebagai ruang dialog dengan iman Kristiani tentang manusia yang hidup dalam relasi dengan sesamanya, sehingga selama manusia masih membutuhkan kehadiran dan persaudaraan, lejong tetap memiliki makna dalam kehidupan bersama. (*
Merauke, 05 September 2026
Hironimus Ero & Agustinus Gereda

