Menjadi Guru (02): Mengapa Saya Memilih Menjadi Guru?

Opini

Menjadi Guru (02): Mengapa Saya Memilih Menjadi Guru?

Memilih menjadi guru bukan sekadar menentukan pekerjaan, tetapi memilih jalan untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan manusia. Motivasi menjadi guru dapat berawal dari pengalaman pribadi, kebutuhan pekerjaan, kekaguman terhadap sosok guru, maupun kesadaran akan panggilan pelayanan. Refleksi ini mengajak calon guru memeriksa kembali alasan memilih dunia pendidikan, sekaligus memahami bahwa panggilan keguruan dapat tumbuh melalui pengalaman, pembelajaran, dan perjumpaan dengan peserta didik. Pada akhirnya, menjadi guru berarti bersedia terus belajar, peduli, dan bertanggung jawab.

Ada pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya cukup sulit dijawab oleh seorang calon guru: “Mengapa kamu ingin menjadi guru?”

Pertanyaan itu pernah muncul dalam sebuah percakapan sederhana dengan mahasiswa di STK St. Yakobus Merauke. Jawabannya beragam. Ada yang mengatakan ingin menjadi guru karena sejak kecil mengagumi gurunya. Ada yang ingin mengajar di kampung halaman. Ada pula yang memilih program studi keguruan karena merasa cocok dengan dunia pendidikan. Tidak sedikit yang menjawab dengan alasan yang lebih praktis: guru adalah pekerjaan yang dibutuhkan dan memiliki masa depan.

Tidak ada jawaban yang sepenuhnya salah. Setiap orang mempunyai cerita dan alasan masing-masing.

Namun, barangkali ada baiknya calon guru sesekali berhenti dan bertanya lebih jauh: ‘setelah semua alasan praktis itu disisihkan, apa sebenarnya yang membuat saya ingin menjadi guru?’

Ketika Pilihan Berawal dari Sebuah Pengalaman

Sering kali, pilihan menjadi guru tidak lahir dari sebuah keputusan besar. Ia justru tumbuh dari pengalaman kecil.

Seorang anak pernah memiliki guru yang sabar membimbingnya membaca. Seorang siswa pernah mengalami kegagalan, tetapi gurunya tidak mempermalukannya. Seorang remaja pernah mendengar kalimat sederhana dari gurunya: “Kamu sebenarnya bisa.” Kalimat itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi menjadi sesuatu yang diingat bertahun-tahun kemudian.

Pengalaman-pengalaman seperti itu menunjukkan bahwa seorang guru dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada satu semester atau satu tahun pelajaran.

Di Papua Selatan, jejak itu bahkan dapat memiliki arti yang sangat besar. Seorang guru yang hadir di sekolah tidak hanya berhadapan dengan buku dan kurikulum. Ia hadir di tengah kehidupan masyarakat dengan latar budaya, kondisi sosial, bahasa, dan tantangan pendidikan yang beragam.

Karena itu, ketika seorang mahasiswa STK St. Yakobus Merauke memilih jalan keguruan, sesungguhnya ia sedang memilih sebuah ruang kehidupan yang akan mempertemukannya dengan banyak manusia dan banyak cerita.

Pekerjaan, Profesi, atau Sesuatu yang Lebih Dalam?

Pada tulisan sebelumnya, kita melihat bahwa guru dapat dipandang sebagai pekerjaan, profesi, sekaligus panggilan. Ketiganya tidak perlu dipertentangkan.

Guru memang membutuhkan penghasilan. Guru juga harus memiliki kompetensi profesional. Tetapi ada sesuatu yang membuat profesi ini berbeda: ‘guru bekerja dengan manusia yang sedang bertumbuh.’

Seorang guru tidak menghasilkan barang seperti sebuah pabrik. Ia tidak dapat mengukur seluruh hasil kerjanya pada akhir jam pelajaran. Apa yang ditanamkannya hari ini mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Karena itu, motivasi menjadi guru menjadi penting.

Jika seseorang menjadi guru semata-mata karena pekerjaan, ia mungkin akan bertanya, “Apa yang harus saya lakukan agar tugas saya selesai?”

Jika ia melihat keguruan sebagai profesi, pertanyaannya menjadi, “Bagaimana saya menjadi guru yang kompeten?”

Tetapi ketika ia mulai melihat keguruan sebagai tanggung jawab kemanusiaan, muncul pertanyaan yang lebih dalam: “Apa yang dapat saya lakukan agar kehadiran saya sungguh berguna bagi pertumbuhan anak?”

Perubahan pertanyaan itu tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah cara seseorang menjalani profesinya.

Motivasi yang Perlu Terus Diperiksa

Menjadi guru tidak selalu mudah. Ada administrasi, keterbatasan fasilitas, tuntutan kurikulum, perbedaan karakter peserta didik, tekanan pekerjaan, dan berbagai persoalan lain.

Pada saat-saat seperti itu, motivasi awal seseorang dapat mengalami perubahan. Guru yang dahulu mengajar dengan penuh semangat bisa menjadi terbiasa. Rutinitas perlahan mengambil alih idealisme.

Karena itu, motivasi menjadi guru bukan sesuatu yang cukup ditemukan sekali, lalu selesai. Ia perlu ‘diperiksa dan diperbarui terus-menerus’.

Calon guru dapat bertanya kepada dirinya sendiri: Mengapa saya memilih program studi ini? Siapa guru yang pernah memberi pengaruh dalam hidup saya? Apa yang ingin saya berikan kepada peserta didik? Apakah saya ingin sekadar menyelesaikan pekerjaan, atau ingin membantu anak berkembang?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan ujian. Tidak ada jawaban yang harus dibuat indah. Justru kejujuran terhadap diri sendiri lebih penting daripada jawaban yang terdengar ideal.

Dari Motivasi Menuju Tindakan

Motivasi yang baik perlu diterjemahkan ke dalam kebiasaan nyata.

Pertama, ‘kenali peserta didik sebagai pribadi’. Jangan melihat mereka hanya sebagai nilai, nomor absen, atau kelompok kemampuan.

Kedua, ‘terus belajar’. Guru yang merasa sudah mengetahui semuanya sebenarnya sedang mulai berhenti menjadi guru. Dunia berubah, peserta didik berubah, teknologi berubah, dan cara belajar pun berubah.

Ketiga, ‘jaga cara memperlakukan peserta didik’. Kesalahan seorang anak tidak selalu membutuhkan kemarahan. Kadang-kadang ia membutuhkan penjelasan, kesempatan mencoba lagi, atau seseorang yang percaya bahwa ia mampu berubah.

Keempat, ‘temukan kembali alasan mengapa kita memilih menjadi guru’ ketika pekerjaan terasa berat. Sesekali mengingat satu anak yang pernah terbantu oleh kehadiran kita mungkin lebih bermakna daripada menghitung semua kesulitan yang kita hadapi.

Menjadi Guru Dimulai dari Sebuah Kejujuran

Mungkin tidak semua calon guru sejak awal memiliki “panggilan” yang kuat. Ada yang masuk program studi keguruan karena pilihan keluarga, pertimbangan pekerjaan, atau alasan lain. Itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Panggilan dapat tumbuh dalam perjalanan.

Seseorang bisa masuk dunia pendidikan karena sebuah alasan sederhana, lalu menemukan makna yang lebih dalam setelah berjumpa dengan peserta didik. Dari pengalaman mengajar, ia belajar mencintai pekerjaannya. Dari kegagalan, ia belajar menjadi rendah hati. Dari kesulitan, ia belajar bertanggung jawab. Dari peserta didik, ia belajar bahwa mendidik orang lain ternyata juga berarti mendidik dirinya sendiri.

Maka, pertanyaan “Mengapa saya ingin menjadi guru?” bukan hanya pertanyaan bagi mahasiswa sebelum memasuki profesi. Pertanyaan itu layak dibawa sepanjang perjalanan keguruan.

Sebab guru yang baik bukanlah guru yang tidak pernah kehilangan arah. Ia adalah guru yang, ketika kehilangan arah, ‘mau berhenti sejenak, melihat kembali alasan awalnya, lalu menemukan kembali makna dari perjalanan yang dipilihnya.’

Pada akhirnya, menjadi guru bukan terutama tentang berdiri di depan kelas. Menjadi guru adalah kesediaan untuk hadir dalam perjalanan pertumbuhan manusia lain.

Dan mungkin, di situlah panggilan keguruan mulai menemukan bentuknya: ‘bukan sekadar mengajar karena harus, tetapi mendidik karena peduli. Bukan hanya bekerja untuk hidup, tetapi bekerja agar kehidupan orang lain bertumbuh.’

Merauke, 09 September 2026

Agustinus Gereda