Merawat Harapan di Tengah Arus Pembaruan

Opini

Merawat Harapan di Tengah Arus Pembaruan

Perubahan zaman dan dinamika akademik menuntut civitas akademika untuk senantiasa adaptif tanpa kehilangan akar nilai-nilai Kristiani. Refleksi ini mengkaji esensi homili RD Donatus Wea di STK St. Yakobus Merauke tentang pentingnya menyambut pembaruan dengan iman yang hidup. Melalui metafora kantong baru dan anggur baru, mahasiswa diajak melampaui ego, merawat harapan, serta mentransformasikan tantangan kampus menjadi ruang pertumbuhan intelektual dan rohani yang berlandaskan kasih demi kemuliaan Allah.

Kehidupan kampus adalah sebuah dinamika yang terus bergerak, mempertemukan kita dengan pelbagai gagasan, tantangan, serta kebijakan baru. Perubahan sering kali datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mengguncang zona nyaman yang telah lama kita bangun. Dalam perayaan Ekaristi bulanan dan Jumat Pertama (04/9/2026) bagi Civitas Akademika STK St. Yakobus Merauke, Ketua Sekolah Tinggi, RD Donatus Wea, menyampaikan homili yang sangat menggugah kesadaran. Beliau memetakan bagaimana manusia kerap menyikapi perubahan: ada yang menolak karena ingin mempertahankan tradisi atau status quo, ada yang memilih bersikap abu-abu demi mengikuti arus, dan ada pula yang terbuka secara selektif.

Pesan utama dari renungan tersebut amatlah jelas: tradisi dan aturan tidak boleh menjadi tembok pembatas, melainkan harus menjadi jembatan yang membawa kita menuju pertumbuhan rohani maupun intelektual.

Meneliti Hati: Di Mana Posisi Kita Saat Ini?

Jika direnungkan secara jujur, kita sering kali mendapati diri berpindah-pindah posisi di antara tiga kelompok sikap tersebut:

Kita bisa tiba-tiba menjadi penolak ketika perubahan dirasa mengancam kenyamanan personal, seperti saat menghadapi penyesuaian sistem akademik baru, adaptasi dengan metode pembelajaran digital, atau dinamika kurikulum yang menuntut fleksibilitas tinggi.

Kita kerap berada di zona abu-abu ketika memilih untuk diam, bersikap apatis, dan sekadar “mengikuti arus” tanpa memiliki pendirian atau kepedulian terhadap arah institusi.

Kita sering kali bersikap terbuka, tetapi hanya sebatas pada hal-hal yang memberikan keuntungan instan bagi kepentingan pribadi kita sendiri.

Homili tersebut menantang kita untuk melampaui batasan-batasan ego tersebut. Kita dipanggil untuk konsisten membuka diri terhadap pembaruan, bukan semata-mata karena setiap hal baru itu selalu benar, melainkan karena Roh Kudus senantiasa berkarya dan memperbarui segala sesuatu, sebagaimana ditegaskan dalam Kitab Suci: “Lihatlah, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, tahukah kamu menyadarinya?” (Yes 43:19).

Bagi para mahasiswa STK St. Yakobus Merauke, semangat ini menuntut keberanian untuk belajar, menimba ilmu, dan merespons setiap kebijakan kampus (baik dalam bentuk sistem kredit maupun digitalisasi administrasi) dengan hati yang lapang dan pikiran yang kritis.

Transformasi Nyata: Kantong Baru untuk Anggur Baru

Semangat iman tidak boleh berhenti pada tataran retorika atau wacana teoretis di ruang kuliah. Iman yang hidup menuntut praksis nyata dalam keseharian seorang mahasiswa. Metafora “anggur baru dan kantong baru” (Luk 5:33-39) mengajak kita untuk melakukan evaluasi diri secara mendalam:

Pertama, membuang kantong anggur lama: Artinya kita harus melepaskan ego pribadi, kemalasan berpikir, rasa enggan untuk keluar dari zona nyaman, serta ketakutan kehilangan kendali atas rutinitas lama.

Kedua, mengenakan kantong yang baru: Yakni merangkul semangat pembaruan iman, ketekunan dalam studi, serta kerendahan hati dalam melayani sesama.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, STK St. Yakobus Merauke diposisikan sebagai laboratorium perubahan yang berani bereksperimen dalam kebaikan, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai Kristiani. Mahasiswa tidak dipanggil untuk sekadar menjadi penonton pasif yang menerima keadaan begitu saja, melainkan subjek aktif yang mampu merespons kemajuan teknologi (seperti pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan metode pembelajaran interaktif) tanpa kehilangan integritas moral dan nilai dasar kemanusiaan.

Menghidupkan Semangat Iman, Harapan, dan Kasih di Kampus

Tantangan terbesar dari setiap gagasan besar adalah bagaimana ia diterjemahkan ke dalam tindakan sederhana namun konsisten. Agar pembaruan ini benar-benar hidup di tengah civitas akademika, beberapa langkah praksis dapat kita mulai bersama:

Pertama, membangun ruang dialog yang sehat: Menginisiasi forum diskusi bulanan yang mengangkat tema perjumpaan antara iman dan dinamika perubahan zaman, di mana suara kritis dan konstruktif dari mahasiswa dihargai sebagai bagian dari proses pencarian kebenaran.

Kedua, mendengarkan aspirasi secara terbuka: Mengadakan refleksi bersama atau evaluasi berkala guna memetakan hal-hal baru apa yang paling mendatangkan kecemasan sekaligus harapan di lingkungan kampus kita.

Ketiga, memulai dari langkah kecil: Konsistensi rohani dapat dipupuk melalui hal-hal sederhana di tengah kesibukan harian, seperti saling mendukung dalam doa, merawat kedisiplinan akademik, serta menumbuhkan kepedulian sosial antar-mahasiswa.

Menatap Masa Depan dengan Penuh Syukur

Kepada seluruh mahasiswa STK St. Yakobus Merauke yang sedang berproses menimba ilmu di ujung timur Nusantara ini, ingatlah bahwa masa studi adalah masa pembentukan karakter yang berharga. Perubahan aturan, tantangan kurikulum, dan dinamika kampus bukanlah batu sandungan, melainkan sarana pembentukan agar kita menjadi pribadi yang tangguh, cerdas secara intelektual, dan matang secara rohani. Seperti teladan Sang Guru Agung, kita dipanggil bukan untuk mempertahankan kemapanan yang kaku, melainkan untuk membawa semangat pembaruan yang menyapa dunia dengan penuh kasih. Mari kita terus melangkah bersama, saling menguatkan dalam pengharapan, dan mendedikasikan seluruh proses studi ini untuk kemuliaan Allah semata. Soli Deo Gloria. (*)