Yudisium dan Pengukuhan Guru Profesional PPG Dalam Jabatan Angkatan VI Tahun 2025

Merauke – Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke menyelenggarakan Yudisium dan Pengukuhan Guru Profesional Program Pendidikan Profesi Guru Pendidikan Agama Katolik Dalam Jabatan Angkatan VI Tahun 2025 pada Sabtu, 6 Desember 2025. Sebanyak 2.254 guru yang berasal dari Batch 1 dan Batch 3 resmi dikukuhkan sebagai guru profesional setelah dinyatakan lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru.

Acara yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia, termasuk Direktur Pendidikan Katolik Bapak Albertus Triyatmojo, S.S., M.Si., dan Kepala Sub Direktorat Pendidikan Dasar Bapak Toni H.F. Pardosi, S.Ag. Hadir pula para pejabat Kementerian Agama Provinsi (Kanwil) dan Kabupaten/Kota yang hadir secara daring, serta senat perguruan tinggi STK Santo Yakobus Merauke yang dipimpin oleh Ketua Dr. Donatus Wea, S.Ag., Lic.Iur.

Pencapaian Luar Biasa Lulusan Angkatan VI dan Komitmen Mutu Pendidikan LPTK

Dalam Laporan Akademiknya, Dr. Donatus Wea menyampaikan bahwa persentase kelulusan angkatan keenam ini mencapai 99,7 persen, merupakan pencapaian tertinggi dibandingkan angkatan-angkatan sebelumnya. Dari 2.254 peserta yudisium yang tersebar di beberapa provinsi mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga Papua, sebanyak 77,2 persen atau 1.739 orang lulus dengan predikat cum laude (dengan pujian), 22,5 persen atau 507 orang meraih predikat sangat memuaskan, dan 0,4 persen atau 8 orang memperoleh predikat memuaskan.

“Kami sangat berharap bahwa dominasi predikat kelulusan cum laude yang bapak ibu terima bukan sekedar goresan hitam di atas selembar kertas transkrip nilai, tetapi benar-benar karena kualitas dan kompetensi keilmuan yang bapak dan ibu miliki,” ujar Dr. Donatus Wea dalam laporannya.

Ketua STK Santo Yakobus juga menyampaikan rasa syukur atas peningkatan persentase kelulusan yang konsisten dari setiap angkatan, yakni angkatan pertama 79,5 persen, angkatan kedua 88,2 persen, angkatan ketiga 93,75 persen, angkatan keempat 97 persen, angkatan kelima 99,5 persen, dan kini angkatan keenam mencapai 99,7 persen. Hingga saat ini, LPTK Santo Yakobus Merauke telah meluluskan sebanyak 4.086 guru profesional dari Program Pendidikan Profesi Guru.

Program Studi PPG STK Santo Yakobus Merauke telah mendapatkan peringkat akreditasi Baik Sekali dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK), sebagai bentuk pengakuan atas kompetensi lulusan dan tata kelola program studi yang berkualitas. Para lulusan telah menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan dalam empat aspek utama, yaitu kompetensi pedagogik melalui inovasi pembelajaran berbasis teknologi, kompetensi profesional dalam penerapan ilmu berbasis kurikulum merdeka belajar dan deep learning, kompetensi sosial dalam kolaborasi dengan komunitas sekolah dan masyarakat, serta kompetensi kepribadian dalam pembentukan karakter guru yang teladan.

Kehadiran LPTK STK Santo Yakobus Merauke di Papua merupakan bukti nyata bahwa pendidikan berkualitas dapat dan harus hadir di setiap sudut negeri, termasuk di wilayah timur Indonesia. Melalui para lulusannya yang tersebar di berbagai pelosok nusantara, institusi ini terus berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional, khususnya dalam menciptakan guru-guru profesional yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, menguasai materi ajar, berkarakter dan berkepribadian Indonesia, serta mampu mengelola proses pembelajaran sesuai tuntutan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Program PPG Transformatif dengan Tantangan dan Adaptasi

Program PPG Angkatan VI ini dilaksanakan dengan mengadopsi model PPG Transformatif yang berbeda dari angkatan-angkatan sebelumnya. Model ini mengacu pada pola yang telah berjalan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan waktu studi yang lebih singkat, yakni sekitar 49 hari, namun dengan beban belajar yang kurang lebih sama. Kurikulum yang dijalankan terdiri dari rekognisi pembelajaran lampau sebesar 27 SKS dan pendalaman materi bidang profesional, pedagogi, serta pengembangan perangkat pembelajaran sebesar 9 SKS, dengan total 36 SKS yang ditempuh melalui sistem perkuliahan daring menggunakan Learning Management System.

“Kondisi ini memerlukan penyampaian materi secara intensif tanpa mengorbankan kualitas. Tidak semua peserta memiliki kesiapan teknologi atau pengalaman dalam penggunaan platform digital, yang dapat menghambat efektivitas pembelajaran daring,” jelas Dr. Donatus Wea.

Meskipun demikian, program ini didukung oleh 24 dosen dan 24 guru pamong yang kompeten, terdiri dari 17 dosen tetap yang telah tercatat dalam Pangkalan Data Pendidikan Tinggi dan 7 dosen tidak tetap dengan keahlian spesifik. Proses pembelajaran juga diperkuat oleh sembilan tenaga administratif yang bertanggung jawab atas pengelolaan dokumen, penyusunan jadwal, serta mendukung pelaksanaan evaluasi dan akreditasi program.

Sambutan Direktur Pendidikan Katolik: PPG sebagai Pemicu, Bukan Akhir

Direktur Pendidikan Katolik Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI, Bapak Albertus Triyatmojo, S.S., M.Si., menyampaikan apresiasi tinggi atas pencapaian tingkat kelulusan di atas 99 persen. Beliau memberikan penghargaan kepada STK Santo Yakobus Merauke dan STPK Santo Fransiskus Asisi Semarang sebagai LPTK penyelenggara PPG bagi guru pendidikan agama Katolik atas kerja keras dan dedikasinya.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008, Bapak Albertus Triyatmojo menegaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik. Program PPG adalah langkah pemerintah untuk memastikan standar kualitas guru tersebut tercapai.

“Guru diminta untuk terus belajar secara mandiri, beradaptasi dengan teknologi, dan tidak cepat puas. Repetitio est mater studiorum, pengulangan adalah ibu dari pengetahuan, untuk menekankan pentingnya terus mengasah ilmu,” ujarnya.

Direktur Pendidikan Katalik juga menyampaikan harapan agar STK Santo Yakobus terus berkembang menjadi lembaga yang kredibel dan kokoh dalam pendidikan dan penelitian. Beliau juga mengumumkan bahwa program PPG Dalam Jabatan model saat ini kemungkinan akan mengalami perubahan atau berakhir pada tahun depan, sehingga para lulusan diminta untuk mengajak rekan guru lain yang belum bersertifikat agar segera memanfaatkan kesempatan program pemerintah yang ada.

“Selamat kepada para guru profesional yang dianggap sebagai peletak dasar moral bagi peserta didik. Semoga terus berkarya dengan dedikasi tinggi,” pungkas Bapak Albertus Triyatmojo.

Prosesi Yudisium dan Pengukuhan

Rangkaian acara yudisium dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke oleh seluruh civitas akademika. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Bapak Offny Oktavian Sengkey, S.Ag. Setelah itu penyampaian laporan akademik oleh ketua LPTK Dr. Donatus Wea, S.Ag., Lic.Iur.. Prosesi yudisium dilakukan dengan pembacaan Surat Keputusan Ketua STK Santo Yakobus Merauke tentang Penetapan Kelulusan Mahasiswa PPG oleh Ibu Yuliana Mangera, S.S.I.

Puncak acara adalah pengucapan sumpah profesi guru Indonesia yang dipimpin oleh Bapak Stefanus Geli, S.Pd., Gr., dan Ibu Oda Yamu, S.Pd., Gr. sebagai bentuk komitmen dan janji profesi para guru profesional yang baru dikukuhkan. Setelah pengukuhan, seluruh hadirin menyanyikan lagu Hymne Guru sebagai bentuk penghargaan atas profesi guru.

Acara dilanjutkan dengan penampilan performance dari para lulusan yang hadir secara luring dan menyanyikan lagu Tanah Papua sebagai ungkapan cinta terhadap tanah tempat mereka mengabdi. Prosesi ditutup dengan sesi foto bersama senat perguruan tinggi, tamu undangan, dan para lulusan, serta doa syukur yang dipimpin oleh Ibu Beatrix Fatsionis, S.Ag., Gr.

Acara yudisium yang dipandu oleh MC Ibu Yolenta Oktovia Mahuze, S.Pd., M.Hum., ditutup dengan pesan dan harapan lulusan yang diwakili oleh Ibu Ana Yuliana Wandaniop, S.Pd., Gr. yang berpesan agar para guru profesional yang baru dikukuhkan dapat menjadi garda terdepan dalam mendidik generasi bangsa dengan semangat profesionalisme dan integritas yang prima, serta terus menjadi pembawa damai, cinta kasih, dan harapan bagi peserta didik di manapun mereka berkarya.

Penulis: Yohanes Hendro Pranyoto

Workshop Konsep dan Implementasi Deep Learning bagi Calon Guru Pendidikan Agama Katolik dan PGSD

MERAUKE – Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke menyelenggarakan Workshop Konsep dan Implementasi Deep Learning bagi Calon Guru Pendidikan Agama Katolik dan PGSD pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung selama lima jam ini diikuti oleh kurang lebih 150 mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Menjawab Kebutuhan Pendidikan Masa Kini

Workshop ini dilatarbelakangi oleh urgensi pemahaman konsep Deep Learning yang telah diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di semua jenjang pendidikan. Sebagai calon pendidik yang akan melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di semester V dan VII, mahasiswa dituntut untuk memahami dan mampu mengimplementasikan pendekatan pembelajaran ini di sekolah-sekolah.

“Mahasiswa kami perlu dibekali pemahaman yang komprehensif tentang Deep Learning sebelum terjun langsung ke lapangan. Ini akan sangat membantu mereka dalam menjalankan tugas sebagai pendidik profesional,” ungkap penyelenggara kegiatan.

Pemaparan Mendalam dari Pakar

Kegiatan yang berlangsung pukul 08:00-13:00 WIT ini menghadirkan Albertus Fiharsono, Ph.D. sebagai narasumber. Beliau memaparkan materi selama tiga jam pertama (08:00-11:00 WIT) melalui metode presentasi dan dialog interaktif. Pemaparan yang sistematis dan komunikatif membuat peserta dapat memahami konsep Deep Learning secara menyeluruh, khususnya dalam konteks mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Diskusi Interaktif dan Antusiasme Mahasiswa

Dua jam berikutnya (11:00-13:00 WIT) diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung sangat dinamis. Antusiasme mahasiswa terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan. Beberapa pertanyaan penting yang muncul antara lain:

Mengapa pemerintah yang menentukan kurikulum? Dr. Fiharsono menjelaskan bahwa pemerintah perlu memberikan standar pelaksanaan pendidikan di seluruh wilayah NKRI untuk memastikan pemerataan kualitas pendidikan.

Mengapa kurikulum sering berganti namun tidak ada perbaikan kualitas pendidikan? Narasumber menjawab bahwa akar masalahnya adalah belum adanya growth mindset di antara para guru. “Guru memegang kunci kualitas pendidikan, tetapi banyak guru yang belum mengembangkan kompetensinya secara optimal,” tegasnya.

Apa perbedaan Deep Learning dengan kurikulum lainnya? Deep Learning tidak mengubah struktur Kurikulum Merdeka yang ada, melainkan memberikan penekanan pada pendekatan dan strategi pembelajaran yang mindfulmeaningful, dan joyful.

Apakah ada perbedaan perangkat pembelajaran Deep Learning dengan lainnya? Menurut Dr. Fiharsono, perbedaannya bukan terletak pada elemen atau struktur perangkat pembelajaran, tetapi lebih kepada pendekatan dan strategi pembelajarannya yang lebih mendalam dan bermakna.

Harapan dan Tindak Lanjut

Workshop ini diharapkan dapat memberikan bekal yang memadai bagi mahasiswa dalam memahami dan mengimplementasikan Deep Learning saat melaksanakan PPL maupun ketika menjadi guru profesional nantinya. Dengan pemahaman yang baik tentang pendekatan pembelajaran mindfulmeaningful, dan joyful, para calon guru diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih berkualitas bagi siswa-siswa mereka di masa depan.

Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten dan siap menghadapi dinamika perubahan dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan yang kontekstual di wilayah Papua Selatan.