Menjadi Mahasiswa PGSD, Belajar Menjadi Guru

Menjadi Mahasiswa PGSD, Belajar Menjadi Guru

Sabtu, 15 Agustus 2026, Kolam Toko Dua Merauke menjadi ruang perjumpaan mahasiswa PGSD semester III dan mahasiswa baru semester I bersama Ketua Program Studi serta beberapa dosen. Suasana rekreasi terasa santai, tetapi percakapan tentang perjalanan PGSD membawa kegiatan itu pada makna yang lebih dalam. PGSD St. Yakobus Merauke baru dibuka pada 2025, sehingga perjalanan awal ini masih merupakan proses membangun fondasi. Evaluasi menjadi kesempatan untuk melihat apa yang sudah berjalan, apa yang belum konsisten, dan ke mana langkah berikutnya diarahkan. Empat hal muncul dalam percakapan, yaitu keterlibatan mahasiswa, penguatan membaca-menulis-berhitung, kegiatan pengembangan diri, dan kesungguhan mengikuti perkuliahan. Dari sana muncul satu pertanyaan sederhana: ‘Kapan seorang mahasiswa PGSD mulai belajar menjadi guru?'

Menjadi Mahasiswa PGSD Bukan Sekadar Masuk Kuliah
Memilih PGSD berarti memasuki proses pembentukan diri sebagai calon guru sekolah dasar. Perkuliahan memang menjadi bagian utama, tetapi perjalanan itu juga berlangsung melalui cara mahasiswa berbicara, bekerja bersama, menyelesaikan tugas, menghadapi kesulitan, dan menggunakan waktunya. Hal-hal kecil tersebut perlahan memperlihatkan kesiapan seseorang dalam menjalani peran yang lebih besar.
Guru SD berhadapan dengan anak-anak yang sedang membangun kebiasaan belajar dan mengenal dunia. Karena itu, kemampuan membaca, menulis, berhitung, berkomunikasi, bekerja sama, dan bertanggung jawab memiliki tempat penting dalam perjalanan tersebut. Seorang mahasiswa yang terbiasa membaca dengan tekun, misalnya, sedang memperkaya bekal yang kelak berguna ketika ia harus menjelaskan sesuatu kepada anak dengan bahasa yang sederhana.
Proses menjadi guru pun berlangsung jauh sebelum seseorang berdiri di depan kelas. Setiap pengalaman di kampus dapat menjadi cermin untuk mengenali kekuatan, kelemahan, dan arah perkembangan diri. ‘Menjadi guru tidak dimulai ketika seseorang menerima ijazah, tetapi ketika ia mulai serius mendidik dirinya sendiri.’

Partisipasi: Belajar Hadir dan Terlibat
Keterlibatan mahasiswa PGSD dalam berbagai kegiatan sudah menunjukkan suasana yang cukup hidup, baik dalam kegiatan perkuliahan maupun kegiatan bersama di luar kelas. Namun, kehadiran itu belum selalu muncul dengan irama yang sama pada setiap kesempatan.
Yang menarik bukan hanya jumlah mahasiswa yang datang, melainkan alasan yang membuat mereka memilih untuk hadir. Ketika seseorang mengikuti latihan bersama, diskusi, atau kegiatan kelompok dengan kesadaran, ia sedang belajar membaca situasi, mendengarkan orang lain, dan mengambil bagian dalam pekerjaan bersama.
Pengalaman seperti itu memiliki kaitan dengan dunia sekolah dasar yang kelak mereka masuki. Guru berhadapan dengan anak yang membutuhkan perhatian, respons, dan keterlibatan nyata, bukan sekadar seseorang yang berada di ruangan yang sama.
Karena itu, partisipasi dapat dipandang sebagai bagian dari perjalanan pembentukan diri. Dari kebiasaan hadir lahir pengalaman berinteraksi, dari interaksi tumbuh rasa memiliki, dan dari rasa memiliki muncul kesediaan untuk mengambil peran.

Literasi dan Numerasi: Yang Tidak Dihitung SKS Tetap Penting 
Di PGSD St. Yakobus, membaca, menulis, dan berhitung mendapat ruang melalui kegiatan non-SKS yang wajib diikuti mahasiswa. Program ini sudah berjalan, meski pelaksanaannya belum selalu konsisten. Kondisi tersebut justru membuka ruang untuk melihat kembali arti kegiatan yang tidak tercantum dalam beban SKS.
Ada hal penting yang tidak selalu masuk ke dalam angka, tabel, atau transkrip akademik. Membaca mempertemukan mahasiswa dengan banyak gagasan, menulis membantu menata pikiran, sedangkan berhitung melatih ketepatan dalam memahami angka dan hubungan antarangka.
Seorang calon guru SD kelak akan membawa kemampuan dasar itu ke dalam kelas. Ketika seorang guru mampu menjelaskan pecahan dengan bahasa sederhana atau mengajak anak memahami sebuah bacaan, kemampuan tersebut lahir dari fondasi yang dibangun jauh sebelumnya.Karena itu, literasi dan numerasi lebih bermakna ketika tumbuh sebagai kebiasaan sehari-hari. Program dapat menjadi pintu masuk, tetapi kebiasaanlah yang perlahan menjadikannya bagian dari cara berpikir seorang calon guru.

Ekstrakurikuler dan Rekreasi: Belajar Menjadi Manusia Bersama
Latihan bernyanyi, olahraga, rekreasi, dan kegiatan bersama lainnya memberi warna pada kehidupan mahasiswa PGSD. Di dalamnya, mahasiswa bertemu dengan pengalaman yang berbeda dari suasana kuliah, seperti berbagi tugas, menyesuaikan diri, berkomunikasi, dan menikmati kebersamaan. Pengalaman semacam ini ikut membentuk cara seseorang berada di tengah kelompok.
Rekreasi di Kolam Toko Dua memperlihatkan bahwa proses pendidikan dapat berlangsung di tempat yang sederhana dan dalam suasana yang lebih cair. Percakapan santai antara mahasiswa dan dosen dapat membuka kedekatan yang sulit muncul ketika semua orang hanya berhadapan dengan buku, tugas, dan jadwal perkuliahan.
Pengalaman bersama menjadi semakin berarti ketika berlangsung secara berkelanjutan. Kelak seorang guru hidup di tengah relasi dengan murid, orang tua, rekan kerja, dan masyarakat. Kemampuan membangun hubungan tidak tumbuh dari teori semata, tetapi dari pengalaman nyata ketika seseorang belajar mendengar, berbagi ruang, dan berjalan bersama orang lain. 

Perkuliahan: Fondasi Utama yang Tidak Boleh Diabaikan
Evaluasi perjalanan semester pertama dan kedua menunjukkan bahwa keaktifan dalam perkuliahan masih menjadi ruang yang perlu diperkuat. Semester berikutnya dapat menjadi titik untuk melihat kembali cara belajar yang selama ini dijalani, terutama bagi mahasiswa yang baru memasuki tahap awal perjalanan di PGSD.
Kuliah bukan hanya soal tercatat hadir dalam daftar presensi. Ada proses yang berlangsung ketika mahasiswa menyimak penjelasan, membaca bahan, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, menyelesaikan tugas, dan mencoba menerapkan apa yang dipelajari. Dari proses itulah pengetahuan perlahan berubah menjadi kemampuan.
Calon guru membawa kebiasaan belajarnya ke ruang kelas yang kelak ia masuki. Ketekunan yang dibangun hari ini akan memengaruhi cara ia menghadapi persoalan pembelajaran di kemudian hari. ‘Guru yang baik tidak lahir dari kebiasaan belajar yang setengah-setengah.’

Pertemuan di Kolam Toko Dua (15 Agustus 2026) bukan ruang untuk menghitung kekurangan, tetapi kesempatan untuk membaca kembali perjalanan PGSD St. Yakobus sejak awal berdiri. Partisipasi, literasi dan numerasi, kegiatan bersama, serta kesungguhan mengikuti perkuliahan memperlihatkan satu arah yang sama, yaitu proses membentuk calon guru melalui kebiasaan yang berlangsung dari hari ke hari. Mahasiswa semester I dan III masih berada pada awal perjalanan yang panjang, sehingga setiap pengalaman dapat menjadi bagian dari pertumbuhan mereka. Harapannya, PGSD St. Yakobus tidak berhenti pada menghasilkan lulusan yang menyandang gelar guru, tetapi ikut membentuk pribadi yang mampu membawa makna profesi tersebut. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bagi mahasiswa PGSD bukan hanya “berapa nilai yang saya peroleh?”, melainkan “pribadi seperti apa yang sedang saya bentuk?” Sebab sebelum mengajar anak-anak di sekolah dasar, seorang calon guru terlebih dahulu harus belajar mendidik dirinya sendiri. (*)

Merauke, 16 Agustus 2026
Agustinus Gereda 

Dua Puluh Tiga Tahun dan Pertanyaan tentang Sebuah Perjalanan

Dies Natalis XXIII STK Santo Yakobus Merauke (11 Agustus 2026) menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan perguruan tinggi, bukan sekadar menghitung usia dan pencapaian. Refleksi ini menempatkan proses sebagai fondasi keberhasilan, karena setiap capaian lahir dari ketekunan, pembelajaran, kerja bersama, dan keberanian menghadapi perubahan. Dalam konteks Papua Selatan, keunggulan perguruan tinggi semakin bermakna ketika pengetahuan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan menghasilkan dampak nyata. Dua puluh tiga tahun akhirnya menjadi titik refleksi sekaligus awal untuk menanam masa depan yang lebih bermakna.

Merauke, 13 Agustus 2026 – Dua puluh tiga tahun bukan sekadar angka dalam kalender STK Santo Yakobus Merauke, melainkan jejak perjalanan yang menyimpan langkah mantap, jalan terjal, dan persimpangan pilihan. Karena itu, Dies Natalis XXIII tidak cukup dibaca sebagai perayaan usia dan pencapaian, tetapi sebagai jeda untuk bertanya: ke mana perjalanan ini hendak diarahkan? Tema “Dua Puluh Tiga Tahun Mengabdi, Berkarya, dan Melayani: Menuju Kampus Unggul dan Berdampak” membawa pertanyaan itu mendalam, sebab keunggulan lahir dari proses panjang, ketekunan, kegagalan, pembelajaran, dan keberanian bergerak. Dalam homili Dies Natalis, Ketua STK Santo Yakobus, RD Donatus Wea, menegaskan bahwa keberhasilan melewati proses serius dan panjang; di situlah perjalanan institusi menemukan maknanya.

Buah Tidak Pernah Berdiri Sendiri 
Pencapaian perguruan tinggi mudah dikenali: prestasi, angka, gelar, dan program. Namun, semua itu hanyalah buah yang tampak, sementara prosesnya sering berlangsung jauh dari sorotan. ‘Pohon tidak tumbuh karena buahnya; ia berbuah karena akarnya bekerja dalam kesunyian.’ Begitu pula STK Santo Yakobus, yang bertumbuh melalui proses panjang yang tidak seluruhnya terlihat dalam catatan pencapaian.
Di balik setiap capaian ada kerja banyak orang: dosen yang terus belajar, tenaga kependidikan yang menjaga roda kampus, mahasiswa yang berjuang, pimpinan yang mengambil keputusan, serta alumni yang membawa nama almamater ke masyarakat. Mereka adalah akar institusi.
Karena itu, dua puluh tiga tahun STK Santo Yakobus menarik dibaca bukan hanya dari apa yang dicapai, tetapi dari proses yang melahirkannya. Sejarah perguruan tinggi tersimpan dalam ketekunan, keputusan, perbaikan, dan kerja bersama. Buah membawa cerita tentang akar, tanah, musim, dan mereka yang tetap merawat pohon.

Pendidikan Bukan Sekadar Hasil
Untuk apa sebuah kampus didirikan? Jawabannya tidak cukup berhenti pada jumlah lulusan, ijazah, atau gelar. Perguruan tinggi menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi ruang belajar berpikir, membaca kenyataan, menguji gagasan, menerima perbedaan, dan memahami konsekuensi pengetahuan.
Di kampus, mahasiswa berhadapan dengan teori, pertanyaan, kritik, kegagalan, dan pengalaman yang tak selalu sesuai harapan. Dari sana pendidikan melampaui transfer pengetahuan; ia membentuk cara berpikir dan kedewasaan. Transkrip nilai adalah catatan akademik; makna pendidikan terbaca ketika pengetahuan bertemu realitas dan membantu membaca persoalan.
Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak selalu terlihat saat wisuda. Ia mulai terbaca setelah toga dilepas dan lulusan kembali ke masyarakat: ‘apa yang dilakukan dengan ilmu yang diperoleh?’ Di sekolah, gereja, lembaga, kantor, kampung, dan ruang sosial lainnya, pengetahuan menemukan nilai kemanusiaannya. Pendidikan akhirnya bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi apa yang dapat dilakukan dengan pengetahuan itu.

Santo Yakobus dan Keberanian Berjalan
Nama Santo Yakobus memberi warna tersendiri bagi perjalanan STK. Ia dikenang sebagai murid yang meninggalkan jala dan perahu ketika panggilan datang. Kisah itu menjadi metafora keberanian bergerak: meninggalkan tepian yang nyaman karena perjalanan menuntut langkah berikutnya.
Bagi perguruan tinggi, keberanian berjalan berarti kesediaan membaca perubahan. Dunia pendidikan dan teknologi bergerak, kebutuhan masyarakat bergeser, dan cara generasi muda belajar berubah; kampus yang berhenti mengevaluasi diri dapat kehilangan hubungan dengan zaman. Namun perubahan tidak berarti kehilangan identitas. Di tengah perubahan, akar justru perlu semakin jelas.
Konteks Papua Selatan membuat perjalanan itu semakin khas. STK tumbuh di tengah realitas sosial, budaya, gerejawi, dan pendidikan yang spesifik, sehingga keunggulan tidak cukup diukur dari kedekatan dengan standar luar. Keunggulan juga terlihat dari kemampuan membaca tanah tempat berpijak: persoalan masyarakat, pengetahuan yang dibutuhkan, dan kontribusi kampus. Berjalan ke depan berarti membawa akar untuk menemukan bentuk kehidupan yang baru.

Dari Unggul Menuju Berdampak
Tema Dies Natalis XXIII mempertemukan dua kata penting: ‘unggul’ dan ‘berdampak’. Keunggulan berbicara tentang mutu akademik, kompetensi dosen, tata kelola, penelitian, pembelajaran, dan lulusan. Semua itu menjadi fondasi, tetapi keunggulan terbatas jika berhenti di lingkungan kampus.
Dampak membawa pertanyaan setelah ilmu keluar dari ruang kuliah. Penelitian berhadapan dengan persoalan masyarakat; pengabdian dilihat dari perubahan yang ditinggalkan; lulusan membawa cara berpikir dan kompetensi ke ruang sosial.
Di Papua Selatan, pertanyaan tentang dampak menjadi konkret karena persoalan masyarakat tidak selalu terjawab oleh teori. Pendidikan, kebudayaan, kehidupan gerejawi, dan perubahan sosial membutuhkan pengetahuan yang membaca realitas setempat. Dari sinilah, STK dapat melihat kembali hubungan antara apa yang dikembangkan di kampus dan apa yang dibutuhkan di luar: ‘apakah pengetahuan menemukan jalan menuju kehidupan?’
Ukuran perguruan tinggi bergerak dari “Seberapa baik kita?” menuju “Apa yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita?” Keunggulan adalah kualitas yang dibangun; dampak adalah kehidupan yang disentuhnya. Tantangannya ialah membuat keunggulan tidak berhenti sebagai pencapaian institusi, tetapi mengalir keluar dan berguna bagi masyarakat.

Dua Puluh Tiga Tahun Bukanlah Titik
Dua puluh tiga tahun bukanlah titik; ia adalah koma, jeda sebelum kalimat berikutnya ditulis. Di depan STK masih terbentang kebutuhan pendidikan, generasi muda yang memerlukan ruang berpikir, serta persoalan masyarakat yang terus berubah. Usia dua puluh tiga tahun lebih menarik dibaca sebagai awal pertanyaan baru daripada penutup perjalanan.
Pencapaian masa lalu penting sebagai sejarah dan identitas, tetapi masa depan tidak tumbuh dari kenangan semata. Ia membutuhkan keberanian membuka halaman baru, membaca perubahan zaman, dan melihat apa yang belum tersentuh oleh kerja pendidikan.
STK hari ini berdiri di atas gagasan, kerja keras, pengalaman, keputusan, dan pengorbanan mereka yang berjalan lebih dahulu. Kini pohon itu berada di tangan generasi berbeda; apa yang dilakukan hari ini akan menjadi lingkungan bagi generasi berikutnya.
Di situlah pendidikan melampaui usia institusi: ‘menanam sesuatu yang mungkin baru dipetik oleh mereka yang belum kita kenal.’ Dua puluh tiga tahun menjadi kesempatan bertanya apa yang hendak ditanam berikutnya, sebab masa depan kampus juga ditentukan oleh keberanian hari ini meninggalkan sesuatu yang layak diwariskan.

Pada akhirnya, perjalanan STK Santo Yakobus selama dua puluh tiga tahun tidak terutama diukur dari daftar pencapaian, melainkan dari manusia yang dibentuk, kehidupan yang disentuh, dan masa depan yang dipersiapkan. Sebuah kampus menjadi berarti ketika kehadirannya membuat kehidupan sekitar bergerak lebih baik. Dies Natalis menjadi ruang untuk bersyukur sekaligus membaca kembali apa yang perlu dipertahankan, diperbaiki, ditinggalkan, dan ditanam. ‘Mengabdi, berkarya, dan melayani’ bukan sekadar tema perayaan, melainkan arah perjalanan yang terus berlangsung; keberhasilan perguruan tinggi tidak terutama terletak pada hasil yang dicapai, tetapi pada kualitas proses yang membentuknya. Dua puluh tiga tahun telah menjadi sejarah, dan sejarah itu kini menjadi akar masa depan.

Merauke, 13 Agustus 2026
Agustinus Gereda
 

Type your paragraph here